Review 402 Rumah Sakit Angker Korea: Sajikan Teror Tempat Angker yang Maksimal!

Di tengah tren remake film horor Asia, sebuah film berjudul 402 Rumah Sakit Angker Korea rupanya mencoba mengambil langkah yang cukup berani. Disutradarai oleh Anggy Umbara di bawah rumah produksi MD Pictures, Umbara Brothers Film, dan Pichouse Films, film ini mengadaptasi salah satu film horor found footage paling ikonik asal Korea Selatan berjudul Gonjiam: Haunted Asylum yang dirilis pada 2018 silam.
Namun, alih-alih menyalin mentah-mentah, versi Indonesia ini coba menambahkan elemen lokal seperti ritual jelangkung dan konten kreator Indonesia yang kebelet viral di negeri orang. Lantas, apakah 402 Rumah Sakit Angker Korea berhasil menerjemahkan teror di rumah sakit tersebut, atau justru kehilangan nyawa dari film aslinya?
Film 402 Rumah Sakit Angker Korea ini akan mengikuti Para Pencari Hantu (PPH) yang berisikan tim konten kreator horor Juna (Arbani Yasiz), Bara (Elang El Gibran), dan Adit (Saputra Kori). Demi menembus 3 juta viewers saat sesi live streaming, mereka nekat terbang ke Korea Selatan untuk menelusuri Rumah Sakit Yong Won. Mereka tertarik dengan bangunan terbengkalai yang dihindari warga lokal tersebut karena reputasi angkernya.
Supaya kontennya memiliki potensi lebih untuk viral, PPH lalu mengajak duo Soul Sisters, Arum (Diandra Agatha) dan Yuri (Lea Ciarachel). Mereka juga mengajak pemandu lokal bernama Dae Ho (Jang Hansol). Sialnya, apa yang semula dianggap hanya sekadar konten hiburan, kini perlahan berubah menjadi mimpi buruk. Satu per satu anggota tim pun mulai mengalami teror yang tak mampu dijelaskan secara logika. Mereka lantas menyadari bahwa rumah sakit tersebut menyimpan sesuatu yang seharusnya tidak pernah dibangunkan.
Dalam menggulirkan pengalaman supranatural yang berlangsung dalam film ini, sineas Anggy Umbara sejatinya hanya memberikan tanda centang ke sederet keklisean yang mudah sobat nonton jumpai di film sejenis. Dari segerombolan karakter stereotip yang sok berani menerima tantangan berhadapan dengan makhluk gaib karena mereka tidak pernah benar-benar memercayainya, menerobos sebuah tempat yang disebut-sebut angker hanya untuk melakukan hal-hal tak berfaedah, melakukan pemanggilan arwah di dalam tempat angker karena mereka menganggap itu sebagai sesuatu yang wajar, berpisah jalan dengan rombongan, hingga baru menyadari bahwa nyawa mereka terancam saat aktivitas supranatural telah berada di level tinggi, semuanya tersaji di sini.
Ya, bagi kalian yang sudah khatam tontonan found footage secara umum, bisa jadi akan beberapa kali memutar bola mata tatkala mendapati keputusan-keputusan ngawur yang diambil oleh para karakter di film ini. Selama setidaknya satu jam pertama yang nyaris tidak terjadi apa-apa (mengikuti tradisi film bergaya found footage), kita diminta memaklumi tindakan para muda-mudi yang tingkat kebodohan beserta menjengkelkannya berada di level dewa.
Namun, yang kemudian menyelamatkan film ini dari kutukan yang acapkali menimpa film horor dengan pendekatan found footage adalah kombinasi memuaskan antara desain produksi, pengambilan gambar, serta kejelian sang sutradara. Desain produksi film ini amat niat, sehingga sanggup membuat ciut nyali hanya dengan memandang setting bangunan angkernya dari luar.
Ditunjang oleh pengambilan gambar yang tangkas sekaligus memberi kesan meyakinkan kepada penonton bahwa kita sedang menyaksikan live streaming dari sebuah bangunan angker, serta kejelian sang sutradara dalam menempatkan trik menakut-nakuti (walau sejatinya sebagian besar di antaranya amat klasik) di waktu yang tepat, membuat 402 Rumah Sakit Angker Korea memiliki sejumlah momen yang dapat membuat penonton meringkuk, melonjak, maupun berteriak di dalam bioskop.
Tidak adanya skoring musik yang memekakkan telinga juga mampu menciptakan kesan otentik. Lagipula, siapa butuh musik untuk menciptakan kekagetan atau rasa ngeri saat latar tempatnya telah sanggup menghembuskan nuansa creepy sedari awal. Pun begitu dengan adegan puncaknya di 20 menit terakhir yang menyeramkan. Nah, apa yang terjadi di babak pamungkas ini sedikit banyak membuat kita semua pada akhirnya akan mentolerir penceritaan dan bangunan karakter film ini yang cukup generik.
Pada akhirnya, konsep dan tema yang ditawarkan oleh film ini memang bukanlah hal yang baru. Tapi film ini jelas menjadi contoh bagus bagaimana sebuah film found footage bisa menjadi sangat efektif sebagai film horor. Sebagai penonton, kita mampu terus dibuat cemas sambil menahan napas menunggu-nunggu datangnya jumpscare yang tidak kunjung muncul.
Sementara itu, mata kita juga terus khawatir dengan pojokan-pojokan gelap yang kita lihat di layar, seakan memberi sugesti pada kita bahwa ada sesuatu yang bersembunyi di kegelapan. Sensasi seperti itulah yang membuat penulis sangat menghargai usaha 402 Rumah Sakit Angker Korea dalam menakut-nakuti penontonnya.








