Review Antara Mama, Cinta, dan Surga: Akting Para Pemainnya Oke, Tapi

Pekan ini, kita semua akan disuguhi sebuah film Indonesia terbaru berjudul Antara Mama, Cinta, dan Surga: Bahasa Cinta Nommensen. Disutradarai sekaligus diproduseri oleh Agustinus Sitorus, film ini sendiri akan mengangkat konflik keluarga, iman, dan pilihan hidup dalam balutan budaya Batak yang kental.
Kisah film ini berfokus pada Bernard (Aldy Maldini Siregar), seorang anak bungsu di dalam sebuah keluarga Batak yang sejak awal dipersiapkan untuk mengikuti jejak tradisi keluarga menjadi pegawai negeri sipil (PNS) demi masa depan yang dianggap mapan. Namun, setelah menyelesaikan pendidikan kuliah, Bernard justru mengalami pergulatan batin yang mendalam.
Mimpi-mimpi tentang Nommensen, tokoh misionaris yang memiliki peran penting dalam sejarah Kekristenan di Tanah Batak, mengguncang keyakinan Bernard. Ia mulai merasakan panggilan untuk menjadi seorang pendeta, sebuah pilihan hidup yang bertentangan dengan harapan keluarganya.
Di tengah tekanan keluarga, Bernard juga harus menghadapi dilema cintanya dengan Anindita (Anneth Delliecia Nasution), sang kekasih, yang turut terimbas oleh pilihan hidup yang ia ambil.
Terjepit antara iman, cinta, dan kewajiban terhadap keluarga, Bernard kini dihadapkan pada keputusan penting yang akan menentukan arah hidupnya. Lalu, keputusan mana yang akan Bernard pilih?
Bisa dibilang, film ini memiliki premis yang kuat, di mana seorang anak bungsu merasa terpanggil untuk menjadi pendeta, sementara ibunya mendesaknya untuk mengambil jalan aman dan menjadi pegawai negeri. Itu saja sudah cukup untuk sebuah cerita yang emosional dan terfokus. Sayangnya, film ini malah justru menambahkan lapisan-lapisan narasi tanggung tanpa benar-benar berniat untuk memberikan penyelesaiannya.
Sejatinya, pertanyaan terbesar yang diajukan oleh film ini adalah tentang makna di balik panggilan si karakter utama, dan mengapa Nommensen digambarkan sebagai kekuatan spiritual yang begitu kuat secara narasi. Film ini sebenarnya sudah memberikan petunjuk tentang sesuatu yang mendalam, tetapi tidak pernah menjelaskannya dengan cukup jelas, yang membuat sebagian pengisahannya terasa membingungkan, terutama bagi sobat nonton yang tidak familiar dengan kebudayaan Batak.
Bicara soal narasi, babak kedua dari film ini merupakan saat di mana segalanya mulai melemah. Dramanya memang menjadi lebih berat, tetapi tidak digali secara lebih dalam. Beberapa adegan emosionalnya juga turut ditampilkan di sini, yang seharusnya berdampak kuat, namun anehnya justru terasa menjadi hampa. Dan di babak akhir, ceritanya makin menjadi padat, namun tetap terasa belum tuntas.
Untungnya, beberapa kelemahan tadi masih sanggup diredam oleh penampilan dari para cast-nya. Dharty Manullang berhasil menampilkan akting yang intens sebagai seorang ibu, dan Cok Simbara mampu memberikan wibawa yang kuat setiap kali ia muncul di frame. Aldy Maldini dan Anneth Delliecia juga memiliki chemistry yang meyakinkan, meskipun harus dibatasi oleh naskah yang tidak sepenuhnya mengeksplorasi karakter mereka secara emosional.
Overall, Antara Mama, Cinta, dan Surga: Bahasa Cinta Nommensen bukanlah sebuah film yang buruk. Film ini sebenarnya memiliki modal dalam hal tawaran kedalaman emosional, landasan budaya yang kokoh, serta konflik utama yang menarik. Namun, film ini masih terasa terbata-bata dalam menyampaikan pesan utamanya. Ya, bisa dibilang, visual cantik dari film ini seolah-olah lebih berhasil dalam hal melakukan pekerjaan naratif ketimbang naskahnya itu sendiri.








