Review Colony: Ketika 'Wajah' Terburuk Manusia Lebih Mengerikan dari Zombie

Industri sinema Korea Selatan kembali menggebrak layar lebar dengan genre andalannya, K-Zombie. Kini, film terbaru berjudul Colony dijadwalkan menyapa para pencinta horor-thriller mulai pekan ini. Mengambil setting tempat yang terisolasi, film ini menjanjikan ketegangan yang berbeda dari film-film bergenre sejenis yang sebelumnya.
Film Colony berkisah tentang teror zombie di sebuah gedung bangunan yang telah diblokade karena virus tersebut bermutasi dengan cepat, sehingga membuat orang-orang yang terjebak di sana harus berusaha mencari cara keluar dengan selamat.
Namun, tantangan terbesarnya adalah mereka harus berhadapan dengan zombie yang memiliki kemampuan tidak biasa dan berevolusi dengan cara tidak terduga, hingga membuat para penyintas harus melakukan berbagai cara agar bisa keluar dari gedung tersebut.
Di tengah kekacauan tadi, seorang ahli bioteknologi bernama Se Jeong (Jun Ji-hyun) bersama para penyintas berusaha bertahan hidup. Harapan muncul ketika mereka mencari sosok misterius bernama Seo Young Cheol (Koo Kyo-hwan), yang mengaku telah menyuntikkan vaksin ke dalam tubuhnya. Mereka pun berusaha mencapai atap gedung untuk menunggu tim penyelamat.
Namun, semakin tinggi mereka naik ke atas, ancaman justru menjadi semakin tak terduga. Seo Young Cheol ternyata menjadi kunci dari teror yang lebih besar, bahkan menghadang para penyintas dengan para terinfeksi yang telah berevolusi. Ketegangan meningkat ketika perbedaan kepentingan di antara para penyintas memicu konflik internal. Di tengah kekacauan, mereka harus memutuskan apakah akan bekerja sama, atau saling mengorbankan demi bertahan hidup.
Tidak seperti film dari sang sutradara sebelumnya yang berjudul Train to Busan, yang terasa memiliki alur pengisahan lebih personal berkat kedalaman penggalian karakternya, Colony hadir dengan dinamika penceritaan yang seringkali tampil untuk menonjolkan adegan-adegan aksi dalam film ini. Tidak mengherankan jika banyak elemen pengisahan dalam film ini seakan tampil layaknya paduan tema maupun kisah dari film-film klasik seperti Escape from New York atau Escape from LA.
Beruntung, Yeon Sang-ho selaku sutradara masih memiliki kemampuan yang cukup untuk menangani banyak adegan aksi dalam film ini. Didukung dengan tata produksi yang lebih rumit (dan, tentu saja, terlihat lebih mahal) dari film sebelumnya, Yeon menggarap Colony sebagai film aksi dengan kawanan karakter mayat hidup yang bergerak cepat dan tampilan visual yang cukup memikat.
Sobat nonton mungkin saja tidak akan menemukan beragam konflik ataupun karakter yang benar-benar mengikat secara emosional, namun Yeon jelas berhasil menjadikan Colony untuk tampil tanpa kesan membosankan. Walaupun, harus diakui, memang akan cukup sulit untuk melampaui atau bahkan hanya untuk sekadar menyamai pencapaian Yeon sebelumnya dalam Train to Busan. Karena film tersebut sudah berhasil menerapkan tatanan standar kisah tersendiri bagi film-film sejenis yang dirilis setelahnya.
Meskipun begitu, Yeon Sang-ho tetap mampu menyelipkan simbolisme tentang ketamakan umat manusia yang masih saja akan selalu ada di saat bencana ataupun bicara tentang usaha untuk memperbaiki diri dari kesalahan di masa lalu. Sayangnya, hal tersebut belum mampu diasah dengan kuat dan tajam sehingga seringkali tertutupi oleh usaha Yeon untuk mengedepankan Colony sebagai sebuah sajian horor dengan elemen aksi yang kental.
Kebanyakan film zombie pasti akan tampil seru, pun acap kali menyenangkan, karena kita semua akan diajak untuk berpikir apakah masih ada peluang untuk selamat dari segala ancaman. Dalam Colony, ancaman terbesar ternyata bukan berasal dari monster yang tak berotak. Karena ancamannya adalah manusia dalam wajah terburuk mereka. Didukung tata rias yang efektif, tiap kali kita melihat mata dari para zombie, rasanya bagai menatap iblis yang bersemayam dalam hati tiap umat manusia.








