Review Esok Tanpa Ibu: Dijamin Bikin Ingin Cepat Pulang untuk Peluk Ibu

Teknologi memang berhasil menciptakan suatu peradaban, tetapi gagal menyimpan bentuk rasa yang paling dasar. Teknologi juga bisa menyimpan memori dan terlatih dalam mengikuti pola. Sayangnya, ia tidak bisa menggantikan posisi seseorang di kehidupan ini.
Kira-kira hal itulah yang menjadi premis utama film Esok Tanpa Ibu yang disutradarai oleh Ho Wi-ding. Esok Tanpa Ibu sendiri mengisahkan Rama (Ali Fikry), seorang remaja yang memiliki hubungan kurang harmonis dengan ayahnya (Ringgo Agus Rahman). Ia merasa tidak pernah benar-benar dipahami oleh sang ayah, sehingga satu-satunya tempatnya merasa aman dan dimengerti adalah di sisi ibunya (Dian Sastrowardoyo).
Namun, kehidupan Rama berubah drastis ketika sang ibu mengalami kecelakaan dan jatuh koma. Kehilangan sosok yang selama ini menjadi sandaran lantas membuatnya terpuruk. Rumah yang dulu terasa hangat kini menjadi sunyi, sementara hubungan dengan sang ayah makin renggang. Rama pun harus menghadapi kesepian, rasa bersalah, dan ketakutan akan kemungkinan terburuk.
Di tengah keputusasaan itu, ia menemukan bantuan tak terduga melalui i-BU, sebuah kecerdasan buatan (AI) yang diciptakan oleh temannya (Nurra Datau). Awalnya, kehadiran i-BU memberi Rama secercah harapan. Namun, makin lama ia bergantung pada AI tersebut, Rama mulai dihadapkan pada dilema emosional. Di tengah kegelisahannya tersebut, langkah apa yang kemudian bakal diambil oleh Rama?
Bisa dibilang, film ini berhasil memadukan konsep AI dengan drama keluarga dengan cukup mulus. Film ini sekaligus juga ingin menegaskan bahwa kecanggihan teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan kehadiran sosok ibu, lebih umumnya kehadiran seorang manusia.
Beberapa hal lain yang juga patut dipuji dari film ini adalah penggunaan tempat atau bangunan yang tidak hanya hadir berupa fisik semata, namun juga sebagai simbol, menjadi bagian cerita filmnya dan memiliki makna. Kemudian ada pula pesan tentang dampak positif dan negatif dari penggunaan AI yang masuk ke ranah keluarga dan perwujudan aplikasi yang dipakai dengan segala resikonya.
Selain itu, film ini juga mampu membawa perspektif baru tentang genre sci-fi. Bukan dari dunia modern distopia, melainkan dunia utopia masa depan yang begitu cerah dan indah. Sentuhan Gina S. Noer selaku penulis naskah film ini memang terasa kental dan menawan, begitu pula dengan penyutradaraan Ho Wi-ding yang sama sekali tak terbata-bata menafsirkan naskah tadi meski bukan dari bahasa ibunya.
Pada akhirnya, lagi-lagi, Esok Tanpa Ibu akan mengingatkan kita bahwa di tengah masa depan yang serba digital, sesuatu bernama “rumah” tetaplah bersemayam di hati seorang ibu. Dan ketika film ini selesai, perasaan tersebut dijamin masih akan tetap tertinggal di hati sobat nonton, dan membuat ingin segera pulang untuk memeluk seseorang yang kita sayangi.








