Review I Was a Stranger: Mampu Mengaduk Emosi hingga Pertanyakan Keadilan

Beberapa tahun ini, isu pengungsi masih jadi salah satu tema yang menarik untuk diangkat, baik dalam panel diskusi hingga ke karya-karya seni, khususnya tatkala diadaptasi ke dalam bentuk film. I Was a Stranger adalah salah satu contoh film yang mengangkat tema tadi dan akan menghadirkan kisah kemanusiaan yang berangkat dari konflik dengan latar krisis yang memengaruhi banyak kehidupan.
Film ini sendiri mengangkat tragedi krisis pengungsi Suriah pada tahun 2016 dan berfokus pada karakter Amira (Yasmine Al Massri), seorang dokter anak asal Suriah yang bekerja di Aleppo di tengah konflik bersenjata. Amira berpegang teguh pada prinsip kemanusiaan dengan merawat korban dari semua pihak yang bertikai.
Sikap tersebut menempatkannya dalam bahaya ketika seorang tentara pemerintah yang terluka memaksanya membunuh seorang remaja pemberontak yang tengah ia obati. Amira menolak, sebuah keputusan yang menegaskan integritas moralnya.
Tak lama setelah itu, serangan bom menghancurkan rumah keluarganya dan menewaskan orang-orang tercinta. Akibatnya, kini Amira harus hidup bersama putrinya yang masih kecil, Rasha (Massa Daoud). Kehilangan tersebut memaksa mereka melarikan diri dari Aleppo dan memulai perjalanan berbahaya meninggalkan Suriah. Dalam pelarian, perjalanan Amira dan Rasha harus bersinggungan dengan sejumlah karakter lainnya.
Terkadang, sebuah film dielu-elukan bukan semata-mata karena kualitasnya saja, tapi turut dipengaruhi oleh relevansi tema yang diangkat. Dan I Was a Stranger jelas memiliki kisah relevan dengan konflik kemanusiaan dunia saat ini. Unsur-unsur tersebut lalu coba di-cover oleh Brandt Andersen selaku sutradara film ini. Dari keputusan yang diambil oleh para karakter utamanya, sobat nonton akan dibawa melihat sejauh apa trauma yang mereka alami.
Selain itu, sang sutradara juga berhasil membuat penokohan dan konflik dalam film ini terbangun dengan sangat mendetail. Ya, karakter-karakter dalam film ini juga terbilang mengalami pembagian yang sangat jelas. Jadi, sobat nonton bisa tahu ke mana tujuan cerita dari masing-masing karakter tersebut, meski sebenarnya mereka memiliki satu fokus konflik yang sama.
Penggambaran para karakter, bahkan situasinya, terkait realitas kehidupan di Suriah, terasa nyata sekali. Anggaplah cukup membumi untuk situasi di negeri tercinta ini. Tampaknya, sang sutradara sengaja tak ingin menutup-nutupi kebrutalan situasi dan keputusasaan yang terjadi dalam film, yang mana tampak berani memberikan sudut pandang yang kuat dan jujur.
Ada banyak isu dan pesan yang ingin disampaikan oleh film ini. Menjadi luar biasa karena film ini berhasil membawa penonton merasakan apa yang ingin si pembuat film sampaikan. Dunia kacau-balau yang digambarkan di sini, adalah dunia yang kini kita tinggali. Dunia yang tidak bisa mendengar jeritan dari para anak-anak malang.
I Was a Stranger jelas merupakan salah satu dari sekian banyak film yang mampu mengaduk emosi, sampai-sampai mempertanyakan keadilan, di samping juga akan menginspirasi penontonnya untuk bisa menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Dengan penggambaran yang jujur dan kuat tentang realitas kehidupan di Suriah, I Was a Stranger benar-benar memperlihatkan masalah yang seringkali diabaikan oleh kita semua.








