Review Laut Bercerita: Sajikan Pengalaman Sinematik yang Atmosferik dan Emosional

Film Laut Bercerita menjadi salah satu film Indonesia yang dinantikan penayangannya pada akhir Oktober 2026. Diadaptasi dari novel populer karya Leila S. Chudori, film ini akan mengangkat perjuangan aktivis mahasiswa menjelang berakhirnya pemerintahan Orde Baru, sekaligus menggambarkan kehilangan dan penantian panjang keluarga korban.
Film Laut Bercerita sendiri akan mengikuti perjalanan Biru Laut (Reza Rahadian), seorang mahasiswa di Yogyakarta pada akhir 1990-an yang bergabung dengan kelompok studi Winatra. Laut gemar membaca dan menulis. Kegiatan tersebut kemudian mempertemukannya dengan sahabat-sahabat yang memperjuangkan kebebasan berekspresi.
Laut juga bergerak bersama Daniel (Kevin Julio), Alex (Ben Nugroho), Sunu (Dewa Dayana), dan rekan-rekannya. Mereka gemar mendiskusikan buku dan menyuarakan ketidakadilan. Namun, situasi kampus semakin tegang setelah tiga mahasiswa ditangkap karena menyebarkan buku terlarang. Tekanan tadi membuat aktivitas kelompok Winatra semakin berisiko. Laut dan sahabat-sahabatnya tetap bergerak sampai suatu malam, sejumlah anggota kelompok itu menghilang tanpa kabar.
Bapak (Arswendy Bening Swara), Ibu (Christine Hakim), dan Asmara (Yunita Siregar), adik Laut, kemudian mencari keberadaannya. Sahabat-sahabat Laut juga berusaha mengetahui nasib mereka yang hilang. Pencarian tersebut lantas membawa keluarga dan orang-orang terdekat Laut pada penantian yang panjang.
Menonton Laut Bercerita entah kenapa mengingatkan penulis pada film Istirahatlah Kata-Kata, terutama dari segi pendekatan penyutradaraan Yosep Anggi Noen yang cenderung mengandalkan tempo lamban, atmosfer yang subtil, dan emosi yang dibangun secara perlahan. Secara sinematik, film ini cukup kuat melalui akting, sinematografi, serta scoring yang berhasil menciptakan rasa terancam dan ketidakpastian dari kehidupan para tokohnya sebagai buronan.
Walaupun, bagi penulis, masih ada celah yang terletak pada ritme penceritaan yang terasa kurang konsisten. Di satu sisi, film ini memberi ruang cukup panjang untuk membangun suasana, tetapi di sisi lain, beberapa perkembangan karakter dan peristiwanya justru terasa terburu-buru. Akibatnya, pendekatan yang lamban tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman dramatik. Penulis tentu memahami keterbatasan adaptasi novel ke medium film, tetapi pemadatan cerita tadi seharusnya tidak mengorbankan fondasi dari para karakternya.
Untungnya, masih ada kelebihan lain dari film ini, seperti ketika film ini bukan semata-mata hanya sebagai sebuah karya yang merepresentasikan represi politik, melainkan bagaimana film ini memperlihatkan ironi di balik sebuah kemenangan sejarah. Adegan ketika Soeharto dilengserkan menjadi momen yang emosional, bukan karena kita menyesali berakhirnya rezim Orde Baru, melainkan karena ada kesedihan yang bersembunyi di balik kegembiraan tersebut.
Penulis benar-benar mengapresiasi visi Anggi Noen dalam membangun pengalaman sinematik yang atmosferik dan emosional, meskipun secara ritme serta pendalaman karakter, film ini masih menyisakan sejumlah persoalan. Laut Bercerita mungkin tidak sepenuhnya menghantam sobat nonton melalui kekuatan dramatiknya, tetapi tetap meninggalkan kegelisahan melalui gagasan yang dibawanya.
Sebab, pada akhirnya, pertanyaan terbesar yang ingin dilontarkan oleh film ini ternyata bukan hanya tentang bagaimana sebuah bangsa merayakan kebebasan, melainkan tentang siapa saja yang harus kehilangan begitu banyak hal agar kebebasan tadi bisa dirayakan.








