Loading your location

Review Minions & Monsters: Lucu, Seru, dan Penuh Daya Magis

By Ekowi04 Juli 2026

Gerombolan makhluk kuning pembuat onar kesayangan kita akhirnya kembali ke layar lebar. Ya, para Minions, humanoid jenaka dari waralaba Despicable Me kembali hadir lewat film prekuel ketiganya yang bertajuk Minions & Monsters. Digarap oleh sutradara Pierre Coffin, film ini akan membawa kita mundur jauh ke masa keemasan Hollywood era 1920-an. Tepatnya ketika industri film bisu tanpa suara sedang merajai dunia hiburan.

Minions memang hanya memiliki satu misi sepanjang hidup mereka: yakni mencari sosok majikan jahat untuk dilayani. Nah, kali ini, Minions berkelana di jalanan Los Angeles pada era 1920-an demi misi tersebut. Di tengah pencarian, para Minions tanpa sengaja menerobos masuk ke sebuah lokasi syuting film bisu arahan sutradara galak bernama Max (Christoph Waltz).

Tingkah laku random dan celotehan bahasa Minionese mereka yang tak masuk akal juga tak sengaja terekam kamera. Alih-alih diamuk dan diburu, kelakuan mereka secara mengejutkan justru disukai oleh sang sutradara. Dan ketika filmnya diliris, justru disukai oleh banyak penonton. Alhasil, dalam semalam, para Minions menjelma menjadi bintang film papan atas yang dipuja banyak orang.

Mereka hidup bergelimang harta, menggelar pesta mewah, dan menetap di sebuah mansion megah. Namun, kejayaan tersebut tak bertahan lama. Munculnya tren teknologi film bersuara membuat karier mereka hancur berkeping-keping. Sebab, penonton modern tak lagi bisa memahami dialog mereka yang bahasanya selalu melenceng dari arahan Max.

Jatuh miskin dan kehilangan arah, dua Minion baru yang ambisius bernama James dan Henry (yang keduanya diisi suaranya oleh Pierre Coffin) tak mau menyerah begitu saja. Dibantu oleh kawan mereka yang bernama Ed (yang juga diisi suaranya oleh Pierre Coffin), ketiganya memutuskan untuk memproduksi sebuah film monster epik milik mereka sendiri guna merebut kembali takhta Hollywood.

Sayangnya, mereka menggunakan cara yang sangat salah untuk merealisasikan rencana besar tersebut. James dan kawan-kawan berniat memanggil monster sungguhan bernama Irene sebagai aktor utama di film mereka. Bukannya patuh berakting di depan kamera, Irene malah mengamuk dan berniat menghancurkan umat manusia di planet ini. Kini, James, Henry, Ed, dan seluruh kawanannya harus memutar otak dan bersatu. Mereka wajib menghentikan sang monster sebelum dunia benar-benar kiamat akibat ulah mereka sendiri.

Sobat nonton boleh setuju atau tidak, tapi bagi penulis, makhluk kuning mungil bernama Minions ini adalah salah satu karakter paling menggemaskan di sejarah film animasi. Berkat tingkah polah konyol yang senantiasa mengundang tawa berkepanjangan, khususnya bagi penonton cilik, Minions pun menjadi scene stealer, bahkan kepopulerannya semakin berkembang yang mengilhami lahirnya figure, game, maupun film pendek.

Naskah buatan Pierre Coffin bersama Brian Lynch memang masih tampil dengan pola standar dari seri Despicable Me. Alur generik, humor hit-and-miss, pun sentuhan emosi yang tak dikembangkan secara maksimal. Akan tetapi, eksplorasi terhadap genre-genre di atas memang tetap menjadi pembeda dibanding animasi lainnya. 

Namun, di sisi lain, dari segi tema yang diangkat, Minions & Monsters akan mengingatkan kita pada sebuah film berjudul The Artist. Karena keduanya menggunakan “love of the movies” sebagai tema. Penulis dapat begitu merasakan aura personal dari film ini bagi seorang Pierre Coffin. It's about the magic of cinema. And how cinema affects people.

Kisah filmnya juga bisa membentuk kombinasi yang menyentuh antara petualangan, misteri, dan keajaiban teknologi. Selain itu, animasinya yang impresif juga mampu memberikan dimensi tambahan pada narasinya. Walaupun keseruan di akhir filmnya masih terasa kurang tuntas dalam hal menembus ekspektasi penulis.

Overall, Minions & Monsters adalah sebuah film animasi yang menunjukan kepada kita semua bahwa hasil karya itu bukanlah sesuatu yang sepele, seperti film. Ya, kita akan belajar mengapresiasi sebuah karya film lewat petualangan para Minions. Selain itu, Minions & Monsters juga akan menawarkan daya magis dari gambar bergerak, the magic of the movies.

Hal tadi yang pasti akan menggugah keharuan para pecinta film di luar sana. Inilah sisi paling unik dari Minions & Monsters, sebuah film animasi mutakhir yang memberi penghormatan pada "leluhur"-nya, terhadap bagaimana film dibuat pada awalnya, yang tak dapat dipungkiri menjadi biang inspirasi bagi dunia perfilman hingga saat ini.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

TANAH SENGKETA
DUA NAFAS
Supergirl
Phi Phong: The Blood Demon

COMING SOON

Verity
Ngunduh Jiwo
Humint
Black Bag