Loading your location

Review Jangan Buang Ibu: Film tentang Ibu yang Dijamin Bikin Mewek

By Ekowi27 Juni 2026

Film Jangan Buang Ibu menjadi salah satu drama Indonesia yang paling menyita perhatian jelang perilisannya. Diproduksi oleh Leo Pictures, film ini akan menghadirkan kisah keluarga yang dekat dengan realitas sosial, terutama soal relasi orang tua dan anak di usia senja. Mengangkat tema pengorbanan ibu dan luka batin akibat pengabaian, Jangan Buang Ibu digadang-gadang akan menguras emosi penontonnya.

Film Jangan Buang Ibu berfokus pada sosok Ristiana (Nirina Zubir), seorang ibu tunggal yang harus membesarkan tiga anaknya seorang diri setelah kepergian sang suami. Dalam keterbatasan ekonomi dan kondisi hidup yang tidak mudah, Ristiana menjalani perannya sebagai ibu dengan penuh pengorbanan. Ia bekerja keras, menahan lelah, dan menomorsatukan masa depan anak-anaknya di atas kebahagiaannya sendiri.

Namun, seiring waktu berlalu dan anak-anaknya tumbuh dewasa, kehidupan Ristiana justru berbalik arah. Di masa tuanya, ketika fisik mulai melemah dan ia membutuhkan perhatian, Ristiana malah diantar ke sebuah panti jompo oleh anak-anak kandungnya sendiri. Keputusan tersebut menjadi titik balik emosional dalam film ini.

Di tempat tersebut, Ristiana harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya dianggap sebagai beban. Hari-harinya di panti diisi dengan rasa sepi, penyesalan, dan pertanyaan yang terus menghantui, di mana letak kesalahannya sebagai seorang ibu?

Mengadaptasi novel berjudul Jangan Buang Ibu Nak karya Wahyu Dera Priangga, film Jangan Buang Ibu memanglah sebuah tearjerker dengan tujuan utama menguras air mata. Tapi film garapan Hadrah Daeng Ratu ini juga tidak lupa menjaga kelayakannya dalam bercerita. So, dibawakanlah sebuah cerita mengenai kerinduan akibat kehilangan, yang berujung meninggalkan retak dan jejak-jejak ketidaksempurnaan.

Sang sutradara sepertinya sadar betul pentingnya setiap momen untuk menggambarkan dinamika dari tokoh-tokohnya. Dibantu tata kamera garapan Fahmy J. Saad, eksekusi teknis dari film ini bisa dibilang memukau. Sempitnya ruang tak membatasi gerak lincah kamera, tapi malah dipakai sebagai penguat rasa sesak yang makin menyeruak seiring emosi yang perlahan mengalami eskalasi.

Melalui beragam momen yang ditampilkan, kita seketika akan dibuat memahami karakternya, baik terkait sisi individual mereka, maupun hubungan dengan satu sama lain. Semua penampilnya pun diberi kesempatan bersinar. Semua karakter di film ini digambarkan pandai berbicara dan melempar argumen tanpa pernah kehabisan kata, walaupun mereka semua seperti tidak tahu caranya mendengarkan.

Ada kalanya, penceritaan Jangan Buang Ibu memang terganggu akibat kurang mulusnya transisi antar peristiwanya. Terkadang karena lemahnya departemen penyuntingan, tapi tidak jarang pula kekurangannya berasal dari naskah hasil tulisan Widya Arifianti yang sedikit menggerakkan kisahnya secara kasar.

Akan tetapi, dibanding banyak tearjerker Indonesia bertema keluarga lainnya, Jangan Buang Ibu membawa bobot lebih lewat eksplorasi mengenai kerinduan serta kisahnya yang tampil lebih kelam. Jangan Buang Ibu tidak memaksakan diri menampilkan kebahagiaan sempurna di penghujung ceritanya. Sebaliknya, filmnya akan mengajak kita untuk turut serta merayakan ketidaksempurnaan dan sisi rapuh manusia beserta semua kehilangan-kehilangan yang takkan bisa dihindari.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

AMPUN SU MURRY YA E
Disclosure Day
Gintama: Yoshiwara in Flames
Michael

COMING SOON

Andong Pocong
Kaiju: Island of Fire
Bandit
Peaky Blinders: The Immortal Man