The Furious: Sajikan Parade Pertarungan Epik yang Memanjakan Mata

Film The Furious siap menggebrak bioskop-bioskop tanah air mulai pekan ini. Mengusung genre aksi, crime, dan thriller, film ini akan menghadirkan beragam adegan pertarungan yang intens sekaligus kisah emosional tentang perjuangan menyelamatkan keluarga dari kejahatan yang terorganisasi.
The Furious sendiri akan mengikuti kisah Wang Wei (Miao Xie), seorang ayah yang hidupnya hancur setelah putrinya diculik oleh jaringan perdagangan anak internasional. Saat hendak mencari bantuan, ia justru berhadapan dengan aparat korup yang tidak mampu membantunya. Tak ingin menyerah, Wang Wei memutuskan untuk mencari putrinya sendiri. Rasa kehilangan dan amarah lantas mendorongnya menelusuri jejak para penculik hingga ke dunia kriminal yang berbahaya.
Dalam perjalanannya, Wang Wei pun bertemu dengan Navin (Joe Taslim), seorang jurnalis investigasi yang diperankan juga memiliki misi pribadi karena istrinya menghilang secara misterius. Keduanya kemudian bekerja sama untuk mengungkap jaringan perdagangan manusia yang diduga terkait dengan kasus yang mereka hadapi.
Wang Wei dan Navin lantas mengikuti berbagai petunjuk yang membawa keduanya semakin dekat dengan para pelaku. Pencarian tersebut dipenuhi ancaman dan kekerasan, di mana mereka harus menghadapi kelompok kriminal bersenjata dalam serangkaian pertarungan bela diri yang brutal.
Disutradarai oleh Kenji Tanigaki, jalinan cerita kuat memang bukanlah menu utama dari The Furious. Tapi tenang, karena film ini masih paham bagaimana cara memperkenalkan barisan para antagonisnya yang berdaya tarik tinggi. Ya, alur tipisnya memang kurang memadai guna menyokong durasi hampir dua jamnya hingga kadang terasa melelahkan, namun jajaran tokoh unik tadi tetap mampu menjaga nilai hiburannya.
Terkait eksekusi aksinya, The Furious ibarat ruang bagi sang sutradara dalam mencurahkan segala eksplorasi teknis yang selama ini mencirikannya. Segala bentuk trik coba diaplikasikan, dari keliaran gerak tata kamera, koreografi beladirinya, hingga penerapan sadisme tepat guna yang beberapa di antaranya sukses menyulut keriuhan tepuk tangan penonton. Sesekali, selipan "humor bodoh" juga turut dikerahkan demi menghapus kemonotonan.
Oh. Mengingat bahwa koreografi laga adalah satu-satunya hal yang diutamakan dalam film ini, maka wajar saja jika kemampuan akting para pengisi departemen akting di film ini juga merupakan hal kesekian yang dapat dinikmati dari film ini. Tapi lagi-lagi, sebagai pengobat dari alpanya kualitas akting serta eksistensi jalan cerita dari The Furious, Kenji Tanigaki mampu menghadirkan koreografi laga yang luar biasa menarik. Koreografi laga yang dihadirkan dalam film ini bahkan dapat digolongkan sebagai salah satu koreografi laga terbaik yang dapat disaksikan penonton di sepanjang sejarah film action dunia.
So, bagi sobat nonton para penggemar film laga yang penuh dengan pertarungan epik, maka The Furious dijamin akan memuaskan secara visual. Film laga seperti ini memang kerap mengesampingkan logika, yang berhasil ditutupi dengan arahan menyenangkan dan keseruan adegannya. Karena ketika batasan logika diterobos, maka kesenangan dan ketegangan pun akan terus berlanjut hingga akhir durasinya.








