Loading your location

Review Jagat Arwah: Andalkan Visual dan Action Seru

By Ekowi29 September 2022

Pasca film Tarian Lengger Maut (2021), kini rumah produksi Visinema Pictures mencoba peruntungannya kembali di ranah horror dengan proyek terbarunya berjudul Jagat Arwah. Layar lebar ini juga menjadi produksi original horror pertama dari Visinema yang akan memadukan berbagai unsur misteri budaya di Indonesia.

Setelah kematian ayahnya, Sukmo (Kiki Narendra), yang secara mendadak dan mencurigakan, akhirnya mendorong Raga (Ari Irham) menelusuri kehidupannya yang penuh dengan hal mistis. Termasuk kenyataan bahwa ia merupakan keturunan penyeimbang Jagat Arwah sekaligus Jagat Manusia yang bergelar Aditya ke-7.

Mimpi untuk menjadi seorang anak band yang terkenal terpaksa harus ia pertaruhkan demi melanggengkan tradisi keluarganya. Dibantu pamannya, Jaya (Oka Antara), Raga berusaha mengendalikan kekuatan di dalam dirinya, dan harus bertemu dengan arwah-arwah yang masih memiliki hubungan dengannya, seperti Nonik (Cinta Laura), Kunti (Sheila Dara) dan juga Genderuwo (Ganindra Bimo).

Jagat Arwah jelas terasa sebagai karya yang sangat ambisius bagi sang sutradara, Ruben Adrian. Tidak hanya berusaha menghantarkan drama aksi dengan balutan nuansa hollywood, film ini juga mencoba untuk menyajikan latar belakang kisah yang beraroma mitologi lokal. Hal ini dapat dirasakan dari penampilan Jagat Arwah yang berhasil ditata dengan baik untuk memberikan atmosfer pengisahan berbalut fantasi yang kental kepada para penonton.

Desain produksi serta tata musik yang mengiringi setiap adegan cukup mampu memberikan kesan ala film-film fantasi Hollywood, meskipun kadang terasa kurang megah maupun bergairah untuk benar-benar mampu mencapai posisi tersebut.

Jika film ini masih cukup berhasil tampil kuat di penampilan visualnya, sayangnya, pengarahan Ruben Adrian masih terasa begitu kekurangan tenaga. Dengan durasi pengisahan yang sebenarnya “hanya” sepanjang 107 menit, Jagat Arwah sering terasa berjalan lebih lama dan lebih panjang akibat kelemahan pengarahan dari sang sutradara yang tidak pernah mampu untuk menjaga ritme pengisahan filmnya dengan seksama.

Film ini nyaris berjalan datar di sepanjang presentasinya dan baru terasa benar-benar berusaha untuk tampil hidup di paruh ketiga cerita ketika adegan-adegan aksi film ini dieksekusi dan disajikan secara total. Lemahnya pengarahan Ruben Adrian jelas tidak lepas dari kualitas penulisan naskah cerita film yang ia tulis bersama dengan Rino Sarjono dan juga Mike Wiluan.

Sebagai sebuah film petualangan yang menumpukan kisah pada perjalanan yang dilakukan oleh beberapa karakter utamanya, tim penulis tidak pernah mampu memberikan karakterisasi yang kuat bagi karakter-karakter tersebut untuk mampu terlihat menarik maupun mengikat antusias dan simpati penonton.

Jagat Arwah dihadirkan nyaris tanpa kehadiran konflik yang berarti. Kebanyakan konflik tersebut hanya tampil untuk memicu adegan-adegan aksi dalam film untuk kemudian menguap dan menghilang begitu saja dari dalam pengisahan. Beruntung, divisi special effect dalam film ini masih mampu menyelamatkan kelemahan-kelemahan tersebut.

Pada akhirnya, kita harus menaruh respek besar kepada film Jagat Arwah yang berani untuk melakukan persilangan genre yang unik dengan segala kematangan teknisnya. Terobosan seperti ini memang harus sering dilakukan, khususnya untuk memancing perhatian industri film luar. Karena kita masih banyak memiliki elemen lokal yang masih bisa kita eksplor lebih jauh.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

SUGA | Agust D TOUR 'D-DAY' THE MOVIE
Keluar Main 1994
Agak Laen
Badarawuhi di Desa Penari

COMING SOON

Anyone But You
Menjelang Ajal
Catatan Harian Menantu Sinting
Twisters