Loading your location

Review Jurassic World: Dominion: Suguhkan Ketegangan Maksimal Sepanjang Film

By Ekowi07 Juni 2022

Apakah sobat nonton masih ingat bagaimana perasaan yang muncul saat menyaksikan Jurassic Park garapan Steven Spielberg untuk pertama kalinya? Apabila sajian ini kamu tonton di era 1990-an – tak peduli melalui medium bioskop atau televisi – hampir bisa dipastikan sobat nonton akan terperangah. Sulit untuk menampik, efek khusus yang dipergunakan dalam memvisualisasikan dinosaurus pada Jurassic Park terbilang luar biasa di masanya.

Spielberg mampu membuat kita berdecak kagum, selain meneteskan keringat dingin lantaran injeksi serum ketegangan pada film yang tidak main-main, yang menjadikan film tersebut sebagai salah satu blockbuster movie terbaik yang pernah dibuat oleh Hollywood. Lalu, mengharapkan kesuksesan serupa dengan suntikan dana lebih tinggi, Universal Pictures lalu meluncurkan The Lost World dan Jurassic Park III yang, tak sehebat pendahulunya.

Kini sambutlah Jurassic World: Dominion, film yang menjadi sekuel langsung dari film Jurassic World: Fallen Kingdom yang dirilis pada 2018 silam. Yang menarik adalah, bahwa Jurassic World: Dominion rupanya kembali digarap oleh studio asli pembuat Jurassic Park.

Seperti yang kita ketahui, Jurassic Park dan dua film selanjutnya digarap oleh Amblin Entertainment yang menjalin kerja sama dengan Universal Studios. Namun ketika Universal hendak menggarap seri Jurassic World, mereka memilih Legendary Pictures yang memproduksi film-film megah seperti Godzilla vs. Kong dan Pacific Rim. Namun setelah kontrak dengan Legendary berakhir pada 2019, Universal kembali menggandeng Amblin yang merupakan studio asli penggarap Jurassic Park.

Jurassic World: Dominion mengambil setting empat tahun usai kehancuran dari Isla Nublar, yang membuat banyak dinosaurus yang berhasil bertahan hidup lalu mencari mangsa sekaligus hidup berdampingan dengan manusia di seluruh dunia.

Manusia pada kala itu berada di ambang pertimbangan, apakah harus mendominasi atau justru pasrah dan rela menjadi mangsa dari beberapa dinosaurus ganas. Manusia juga harus menentukan kepastian dalam kehidupannya agar tidak dibuat punah oleh para makhluk dinosaurus tersebut.

Lantas, akankah para manusia mampu hidup berdampingan dengan para dinosaurus? Atau justru manusia tetap menjadi makhluk yang paling mendominasi di muka bumi?

Jurassic World: Dominion tampak seperti membuka ruang diskusi bertajuk debat antara ketamakan melawan tanggungjawab. Karena hal tersebutlah yang menjadi motivasi para tokohnya.

Film ini tak hanya sekedar berbicara tentang menyelamatkan para Dinosaurus, tapi juga seperti berusaha begitu keras menempatkan mereka semuanya di depan wajah kita. Kita semua mungkin mengerti ketika kita membuat film tentang dinosaurus, seketika dinosaurus haruslah menjadi hal yang esensial. Filmnya harus mengeksplorasi sosok dinosaurus tersebut, karena itulah yang ingin dilihat oleh penonton.

Tapi film sesungguhnya adalah bagaimana cara menceritakan tentang sesuatu hal, dalam kasus ini adalah sosok makhluk bernama dinosaurus. Jurassic World: Dominion penuh dengan sekuen manusia lari terbirit-birit dikejar oleh dinosaurus buas, tetapi tidak ada yang terasa begitu memorable karena diolah dengan mentah tanpa build-up sebelumnya. Satu-satunya obat pada film ini adalah kembali dilibatkannya deretan aktor lawas dari film Jurassic Park terdahulu. Mereka adalah Sam Neill, Laura Dern, dan Jeff Goldblum. Mereka akan beradu akting dengan dua bintang utama trilogi ini, Chris Patt dan Bryce Dallas Howard.

Dari sekian banyak kemungkinan elemen cerita yang berpotensi menarik untuk digali dalam film ini, secara pribadi, penulis sebenarnya tertarik dengan ide rekayasa genetika. Namun ide menarik tersebut tertutup oleh rentetan serbuan sekuen dinosaurus yang tak ada habis-habisnya tadi.

Owen di tangan Chris Pratt memang tampak keren, karena dia salah satu yang membuat kita betah menonton film ini. Porsi drama, komedi, dan aksi berhasil dia lahap dengan sempurna. Sayangnya, tokoh Owen tidak berkembang sama sekali. Sejak awal kemunculan, ia tampak tak berubah dari film pertama. Saat film ini berakhir pun, dia masih orang yang sama. Begitu juga dengan tokoh antagonis manusia dalam film ini yang dibuat hanya satu dimensi.

Tapi sekali lagi, jika sobat nonton mencari hiburan pemuas mata dan telinga, Jurassic World: Dominion jelas pilihan yang sempurna. Jika kalian termasuk satu dari sekian juta penggemar berat Jurassic Park yang ketar ketir terhadap penanganan Trevorrow di angsuran ketiga ini, silahkan bernafas lega. Spielberg maupun mendiang Michael Crichton – sang pencetus ide – bakal tersenyum penuh kebanggaan menilik perlakuan penuh penghormatan dari sutradara pembesut Safety Not Guaranteed ini kepada waralaba.

Atmosfir (dan semangat) serupa dari angsuran pertama masih dapat sobat nonton rasakan di sini, begitu pula dengan setumpuk referensi yang pastinya akan membuat para pecinta trilogi sebelumnya berjingkrak gembira. Dan memang inilah letak keasyikan dari menyaksikan Jurassic World: Dominion. Naskah yang tak lagi inovatif atau memberi kedalaman dapat diampuni berkat kecakapan si pembuat film dalam menyuguhkan ketegangan ke titik maksimal sampai-sampai kursi bioskop pun akan dicengkram erat-erat. Apalagi jika kalian menyaksikannya di layar IMAX.

Jurassic World: Dominion juga menghasilkan posibilitas menarik bagi masa depan franchise-nya ini sembari membawa kita mengintip 'lingkaran kehidupan', di mana suatu hari, tatkala manusia kurang berhati-hati, termakan ketamakan lalu terkena dampak aksinya sendiri, peradaban bakal runtuh dan kembali ke zaman pra-sejarah.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

KAMU TIDAK SENDIRI
PENGABDI SETAN 2: COMMUNION
EVERYTHING EVERYWHERE ALL AT ONCE
MINIONS: THE RISE OF GRU

COMING SOON

MOSUL
BEFORE I MEET YOU
ORPHAN: FIRST KILL
SAYAP SAYAP PATAH