Loading your location

Review Ipar Adalah Maut: Potret Jujur dan Berani tentang Perselingkuhan

By Ekowi14 Juni 2024

Dalam hubungan antar manusia, tentu ada ragam masalah yang menyelimutinya. Salah satunya adalah perihal perselingkuhan, yang seakan masih menjadi momok mengerikan dalam berbagai situasi, baik yang baru berpacaran sampai yang sudah berkeluarga sekali pun. Fakta inilah yang kemudian coba diangkat oleh sineas Hanung Bramantyo dalam karya terbarunya yang berjudul Ipar Adalah Maut.

Ipar Adalah Maut akan berkisah tentang Nisa (Michelle Ziudith) yang telah dipinang oleh seorang dosen muda dari kampusnya, Aris (Deva Mahenra). Aris sendiri merupakan seorang laki-laki cerdas yang memiliki pesona luar biasa. Pernikahan mereka bagai pernikahan di negeri dongeng, sempurna, apalagi dengan kelahiran putri mereka, Raya (Alesha Fadillah).

Sayangnya, seperti juga cinta, masalah datang tanpa diduga. Ibu Nisa (Dewi Irawan) tiba-tiba menitipkan putri keduanya, Rani (Davina Karamoy) untuk tinggal bersama Aris dan Nisa. Kehadiran Rani pun perlahan membuat keluarga kecil yang bahagia ini diterpa petaka.

Awalnya, Nisa menyambut bahagia kedatangan Rani di rumahnya. Namun tanpa disangka, Rani mulai menunjukan ketertarikan dengan kakak iparnya. Begitu juga dengan Aris yang memiliki perasaan serupa dengan Rani. Lantas, akan seperti apa akhir dari hubungan terlarang antara Aris dengan adik iparnya tersebut? Dan apakah Nisa bisa menghadapi kenyataan ini?

Perkara perselingkuhan dalam film-film Indonesia biasanya akan menampilkan sosok pria yang melakukan kesalahan. Harus diakui, problem tersebut seakan memang menjadi gambaran realita di sekitar kita. Hanung Bramantyo sebagai sutradara coba menggambarkannya dengan amat jujur di sini. Bahwa kehidupan rumah tangga bisa bermasalah karena adanya miss communication. Penyebab ini tak hanya menyalahkan si pria saja atau wanita saja.

Di samping itu, Hanung juga berani menyampaikan keseluruhan cerita ini dengan cukup liar dan apa adanya di beberapa bagiannya. Apresiasi tersendiri untuk Hanung yang cukup peka dalam melihat realita. Faktanya, film ini konon memang diangkat dari kisah nyata yang pernah viral di media sosial. Maka tak heran, percekcokan antara Nisa dengan Aris ataupun Nisa dengan Rani pada salah satu satu adegannya dibuat dengan bahasa yang straightforward.

Upaya menyajikan hal di atas tadi sebenarnya bukanlah suatu terobosan baru atau sesuatu yang mendobrak aturan. Karena seorang pembuat film hanya menggambarkannya ke dalam karya audio visual tanpa terjebak dengan sesuatu yang dirasa tabu. Namun persoalan keberanian lah yang menjadikan film ini cukup memiliki poin lebih dibanding film-film lokal bertema perselingkuhan lainnya.

Masalah rumah tangga yang dirasa membosankan dan klise pun mampu terlihat bernyawa lewat film Ipar Adalah Maut. Ini salah satunya berkat tangan dingin sinematografer Ipung Rachmat Syaiful dalam menyajikan gambar-gambar yang artistik dan hangat, sekaligus kalem dalam kisah yang kelam. Keahliannya dalam memotret gambar membuat hal-hal kecil pun bisa menjadi poin menarik.

Walaupun babak ketiganya terasa terlalu dipanjang-panjangkan, namun secara keseluruhan, film ini pada akhirnya mampu menyajikan sebuah potret masalah rumah tangga yang berasal dari nafsu masing-masing individu. Konflik ini bisa saja dialami oleh banyak orang di luar sana, yang makin diperkeruh dengan masalah-masalah eksternal lainnya. Kesabaran mungkin menjadi kunci tatkala masalah itu terjadi. Tapi bila kesabaran sudah tak tersisa, maka kata “selesai” mungkin menjadi pilihan yang paling tepat untuk menyudahi segalanya.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

LONGLEGS
DESPICABLE ME 4
Hijack 1971
AJIAN KEMAT JARAN GUYANG

COMING SOON

Beetlejuice Beetlejuice
Kusebut Namamu di Baitullah
Anak Medan: Cocok Ko Rasa?
Sakaratul Maut