Spider-Man: Brand New Day: Suguhkan Keseruan, Kejutan, dan Fan Service yang Memuaskan!

Karakter legendaris Peter Parker kembali mengayun di antara gedung-gedung New York. Bedanya, kali ini tidak ada lagi dunia yang mengenalnya. Ya, Spider-Man: Brand New Day seolah menjadi babak baru perjalanan sang manusia laba-laba setelah peristiwa besar di film Spider-Man: No Way Home lalu. Ketika identitas Peter Parker terbongkar dan benar-benar terhapus dari ingatan semua orang.
Seperti yang sudah disinggung di atas, film Spider-Man: Brand New Day akan berpusat pada kehidupan Peter Parker (Tom Holland) yang benar-benar berubah setelah peristiwa dalam Spider-Man: No Way Home. Ketika itu, Peter meminta Dr Strange (Benedict Cumberbatch) menggunakan sihirnya untuk membuat orang-orang melupakan siapa dirinya. Kecuali orang-orang terdekatnya seperti MJ (Zendaya), Ned (Jacob Batalon), Bibi May (Marisa Tomei), dan para anggota Avengers.
Rupanya, hal itu membuat Peter menjadi sedikit depresi, sekalipun ia tetap dapat menjalani kehidupan sebagai sosok Spider-Man. Tekanan batin yang menumpuk perlahan mengubah kondisi Peter, baik secara fisik maupun emosional. Peter juga mulai mempertanyakan apakah kekuatan yang selama ini membantunya justru akan menjadi ancaman bagi dirinya sendiri atau tidak. Di saat Peter masih berusaha memahami apa yang sedang terjadi pada tubuhnya, sebuah ancaman misterius muncul dan membahayakan kota. Bukan hanya satu, melainkan beberapa sekaligus.
Well, selepas film Avengers: Endgame, mungkin kita semua sempat berujar, "I've never seen anything like this". Wajar saja, mengingat status filmnya sebagai kulminasi perjalanan satu dekade lebih. Tapi bahkan setelah itu, Spider-Man: Brand New Day ternyata mampu memancing respon serupa. Sekali lagi Marvel Studios mendobrak batas kemustahilan.
Spider-Man: Brand New Day sanggup bertindak sebagai fan service bagi penonton multigenerasi. Film ini juga bisa disebut sebagai “rumah”, bukan saja untuk penggemar Spider-Man, pun bagi mereka yang merindukan apa yang disebut sebagai theatrical experience.
Yap, Spider-Man: Brand New Day merupakan fan service, di mana kata "service" tak berhenti di ranah trivial. Semakin sobat nonton mengenal karakter Spider-Man, baik versi komik maupun layar lebar, semakin sobat nonton akan makin menyadari, bahwa film ini telah sukses menangkap esensi dari tokohnya.
Serupa julukan "friendly neighborhood" miliknya, juga kalimat "with great power comes great responsibility", si manusia laba-laba ini bukan cuma menumpas kejahatan, namun juga menebar kebaikan. Terdengar serupa memang, tetapi tentu saja ada perbedaan. Poin tersebut turut ditekankan oleh filmnya, terutama terkait cara Peter menyikapi kedatangan tamu-tamu tak diundang dari dunia lain.
Bertugas memperluas cakupan MCU tak membuat film ini lalai mengurus semestanya sendiri. Di antara gejolak multidimensi, Spider-Man: Brand New Day tetaplah sebuah kisah remaja. Film ini akan tetap berpusat di Peter dan orang-orang terdekatnya. Karena sejatinya, Spider-Man memanglah sebuah kisah coming-of-age.
Kebaikan hati dan kepintaran. Begitulah filmnya mendefinisikan Peter Parker. Dua aspek tersebut yang membentuk paruh kedua filmnya. Pacing-nya memang sedikit tersendat di bagian tersebut, namun masih bisa dimaafkan karena kesesuaiannya dalam menggambarkan esensi penokohan seorang Peter Parker.
Nah, melewati babak kedua, Spider-Man: Brand New Day enggan melepas cengkeramannya. Keseruan, kejutan, fan service, semuanya campur aduk. Lupakan kekurangan perihal penyuntingan yang ada kalanya tampak tergesa-gesa, sebab di titik ini, Spider-Man: Brand New Day sudah sangat berhasil memenuhi hakikatnya sebagai sebuah blockbuster: membuat penonton berdecak kagum!
Sempurna? Mungkin belum. Seperti yang penulis singgung di atas, ada beberapa celah seputar pacing dan penyuntingannya. Tapi percayalah, dalam 1-2 tahun terakhir, tidak ada blockbuster superhero dengan pencapaian seemosional film ini, yang benar-benar menunjukkan alasan mengapa theatrical experience mustahil tergantikan. Suatu pengalaman komunal, di mana puluhan, bahkan ratusan orang, berbagi rasa tanpa perlu saling mengenal satu sama lain, disatukan oleh layar raksasa yang menampilkan keajaiban bernama "sinema".








