Review Bapak Paling Jujur: Tontonan yang Relevan dan Penting di Masa Sekarang, Tapi...

Rumah produksi Cahaya Pictures merilis karya terbarunya berjudul Bapak Paling Jujur yang telah tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai pekan ini. Disutradarai oleh Fajar Nugros, film yang merupakan adaptasi dari film Brazil bertajuk O Candidato Honesto ini akan mengangkat premis unik tentang seorang calon gubernur yang mendadak tidak bisa berbohong setelah terkena kutukan dari neneknya. Situasi tersebut memicu berbagai kejadian kocak sekaligus menyindir fenomena pencitraan dalam dunia politik.
Film Bapak Paling Jujur akan mengisahkan Jonas Prakoso (Andovi da Lopez), seorang calon gubernur yang tengah sibuk berkampanye demi memenangkan pemilihan. Namun, di tengah perjalanan politiknya, ia tiba-tiba terkena kutukan dari sang nenek (Indy Barends) yang membuatnya tidak bisa berbohong sedikit pun. Berbagai pernyataan yang semula dirancang sebagai janji politik dan bentuk pencitraan berubah menjadi pengakuan-pengakuan jujur yang tidak pernah direncanakan sebelumnya oleh tim pemenangannya.
Kejujuran yang tidak bisa dikendalikan itu kemudian memicu kekacauan di berbagai sisi kehidupannya. Hubungan dengan tim sukses mulai retak, lawan politik memanfaatkan situasi tersebut, sementara kehidupan pribadinya ikut terdampak. Kejururan tanpa kompromi yang dialami Jonas pun mulai menimbulkan serangkaian permasalahan dalam hubungan rumah tangganya bersama sang istri, Vanny (Claresta Taufan).
Menurut penulis, film Bapak Paling Jujur coba berusaha untuk mengolah begitu banyak isu, dari kebohongan politikus yang menghalalkan segala cara demi kemenangan, korupsi menjadi-jadi termasuk di ranah edukasi, peran jurnalisme, hingga konspirasi tingkat tinggi. Sayangnya, hal tadi justru membuat film ini seperti terasa tak tahu arah dan tidak punya pendirian, serta gagal dalam memanfaatkan segala potensi yang dimilikinya.
Mulai dari komedinya yang terasa repetitif, hingga banyak sekali penempatannya yang terasa berlebihan dan terlalu sibuk untuk menjadi relevan atau menyentil keaadaan di dunia nyata sampai lupa fokus untuk bercerita. Babak pertama hingga keduanya terasa amat melelahkan. Hal tersebut amat disayangkan karena filmnya gagal mengolah situasi yang dialami sang karakter utama dengan lebih menarik.
Berbicara soal komedi, apakah komedinya memerlukan alur yang solid? Tentu saja, jika tujuannya melahirkan satir berbobot. Tapi di ranah hiburan ringan pun itu dibutuhkan, supaya humornya terfokus, dan filmnya sendiri bisa menaruh fokus pada penghantaran humor tersebut, alih-alih dibuat kelabakan menggabungkan terlalu banyak cabang. Dan itu yang dilakukan oleh film ini.
Sementara itu, sempat ada harapan dibabak ketiganya yang mulai terasa membaik. Tapi sayang, harapan itu sirna karena minimnya build-up dan filmnya lebih sibuk mengulangi situasi-situasi repetitif di paruh awal filmnya. Padahal, jika bagian soal personal Jonas dan "kejujuran"-nya ini lebih diulik lagi, rasa-rasanya bisa jadi hal yang menarik serta terasa lebih berbobot.
Penceritaan film ini bahkan kerap membingungkan, yang mana haram hukumnya dalam komedi ringan semacam ini. Sulit bersantai menikmati banyolan-banyolan di film ini, sebab pikiran kita rutin terganggu dengan pertanyaan, “Ada apa? Bagaimana hal itu bisa terjadi?? Kenapa???”. Tatkala sobat nonton mempertanyakan hal-hal demikian, humornya pun hanya lewat begitu saja. Sedangkan sebagai sebuah satir, film ini terlalu menyederhanakan masalah yang sejatinya kompleks, pun begitu nyata.
Well, seandainya film ini memiliki visi dan tujuan yang lebih tegas lagi, serta timing komedinya lebih diperhatikan lagi, maka rasanya film ini bisa menjadi tontonan yang tak hanya relevan, tapi juga penting untuk masa sekarang. Meski begitu, film Bapak Paling Jujur tetap worth watching bagi sobat nonton yang menyukai komedi politik dengan humor yang cukup berani, meskipun tidak semua jokes-nya bakal kena ke setiap penonton.








