Loading your location

Review Monster Pabrik Rambut: Mengeksplorasi Horor melalui Fenomena Nyata yang Dekat dengan Eksistensi Manusia

By Ekowi05 Juni 2026

Lembur karena pekerjaan, kurang tidur, dan terus mengejar target sering dianggap lumrah. Banyak pekerja bahkan menerima kondisi tersebut sebagai bagian dari kesuksesan. Waktu bersama keluarga pun perlahan berkurang karena tuntutan pekerjaan tadi.

Ruang untuk beristirahat pun menjadi kerap tersingkir oleh kewajiban dari kantor. Nah, keresahan seperti itulah yang menjadi fondasi dari sebuah film Monster Pabrik Rambut, yang juga merupakan karya terbaru dari sutradara Edwin.

Kisah dalam film Monster Pabrik Rambut sendiri bermula ketika Putri (Rachel Amanda) harus menelan kenyataan pahit atas kematian mendadak ibunya. Sang ibu, yang bekerja di sebuah pabrik pembuatan rambut palsu bernama PT Raga Abadi, meninggal dunia setelah beberapa hari tidak tidur demi menjalani shift lembur siang dan malam.

Maryati (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik yang baik hati, mengklaim bahwa ibu Putri meninggal karena bunuh diri. Putri awalnya memercayai pernyataan tersebut. Dia bahkan menggantikan posisi ibunya bekerja di pabrik itu demi melunasi utang keluarga.

Namun, sang adik, Ida (Lutesha), yang selama ini sering dianggap aneh karena mengaku bisa melihat hal-hal tak kasatmata, menolak percaya. Ida meyakini bahwa ibu mereka meninggal karena kesurupan entitas gelap di pabrik tersebut.

Untuk membuktikan omongannya, Ida nekat ikut bekerja di pabrik itu. Dia sengaja mengambil jam lembur dan tidak tidur berhari-hari demi memancing dan melihat sendiri wujud sosok hitam yang telah merebut nyawa ibunya. Seiring waktu, Putri dan Ida pun menyadari ada misteri mengerikan di balik dinding PT Raga Abadi. Misteri apakah itu?

Sejatinya, film ini ingin menegaskan bahwa narasi horor tidak selalu bergantung pada stimulasi audio maupun jumpscare konvensional yang berlebihan. Sebaliknya, esensi dari film horor justru dieksplorasi melalui fenomena nyata yang dekat dengan eksistensi manusia, yakni dengan mengusung pesan satir sosial terhadap tekanan di dunia kerja.

Penggambaran overworked dengan kurangnya jam tidur yang membuat pekerja hilang akal sehat juga cukup menggambarkan keadaan realitas saat ini, di mana jika berbicara soal overworked, maka tidak akan jauh-jauh dari stress kerja & kualitas tidur menurun yang berdampak pada penurunan sistem otak. Dan itu semua benar-benar digambarkan secara gamblang di film ini.

Mungkin akan sedikit sulit bagi para penonton Indonesia untuk bisa menikmati keabsurdan seorang Edwin di Monster Pabrik Rambut yang menurut penulis adalah salah satu karya beliau yang paling over-the-top, karena Edwin seperti memberikan homage bagi film-film horor, khususnya B Movie asal Jepang.

Tapi kembali lagi, menurut penulis, film ini amat paham bahwa tubuh manusia adalah sebuah medan perang. Rambut, kulit, dan regenerasi tubuh, semuanya dipakai sebagai bahasa visual untuk menunjukkan bagaimana kapitalisme mengunyah manusia sedikit demi sedikit. Body horror-nya ternyata bukan soal darah atau daging, melainkan tentang badan yang sudah terlalu lelah untuk membedakan kerja dan hidup.

Akhir kata, Monster Pabrik Rambut seperti ingin menunjukkan bahwa monster sesungguhnya adalah sistem kapitalistik itu sendiri yang mencekik, memerah, dan menghisap para pekerjanya. Manusia sering dianggap bak mesin yang dinilai dari produktivitasnya semata. Ketika Ia tak lagi menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi pabrik, maka ia juga dianggap tidak berguna.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!!
Ghost In The Cell
Colony
TIBA TIBA SETAN

COMING SOON

Clayface
Dark Harvest
Eddington
TANAH SENGKETA