Review Sekawan Limo 2: Gunung Klawih: Sajikan Misteri Ringan nan Menyenangkan

Setelah sukses besar lewat film pertamanya yang berhasil mengumpulkan 2,5 juta penonton, film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih akhirnya siap melanjutkan petualangan geng pendaki paling sial di Indonesia. Kali ini, Bayu Skak kembali membawa nuansa horor-komedi khas Jawa Timur yang lebih ramai, lebih heboh, dan tentunya lebih emosional dibanding film sebelumnya.
Tiga tahun setelah kejadian di film pertama, Bagas (Bayu Skak), Lenni (Nadya Arina), Juna (Benidictus Siregar), Andrew (Indra Pramujito), dan Dicky (Firza Valaza) akhirnya kembali berkumpul. Momen reuni itu awalnya terasa hangat dan menyenangkan, karena mereka berniat merayakan ulang tahun anak Andrew. Namun suasana berubah drastis ketika mereka mengetahui bahwa keluarga Andrew ternyata sedang berada dalam ancaman besar.
Sebuah kutukan pesugihan dari Gunung Klawih disebut mengincar nyawa keluarga Andrew sebagai tumbal. Demi menyelamatkan sahabat mereka, kelima sahabat itu memutuskan kembali melakukan perjalanan menuju gunung yang penuh misteri tersebut. Namun seperti yang sudah bisa ditebak, perjalanan mereka sama sekali tidak berjalan mulus.
Situasi makin kacau ketika Juna tiba-tiba menghilang secara misterius dan tersesat ke dunia demit. Di sisi lain, berbagai teror aneh mulai bermunculan sepanjang perjalanan mereka. Mulai dari sosok-sosok gaib, ritual pesugihan, sampai rahasia masa lalu yang perlahan terbongkar satu per satu.
Well, melalui film ini, Bayu Skak berhasil mencapai apa yang gagal dicapai oleh seorang Raditya Dika beberapa tahun lalu, yakni mengentaskan diri dari citra pria lucu yang mengakrabi patah hati, dengan mengeksplorasi genre di luar komedi romantis. Didukung naskah kreatif hasil tulisan Nona Ica, Bayu telah menguasai apa yang disebut dengan "seni menertawakan memedi".
Sekawan Limo 2: Gunung Klawih pastinya bukan sebuah film horor misteri yang cerdas, tapi sekali lagi, penulisan solid Nona Ica tetap mampu melahirkan misteri ringan nan menyenangkan, ketika mampu memancing kecurigaan terhadap tiap karakter. Semua orang pantas dicurigai sebagai hantu, pun kelak terungkap bahwa mereka sama-sama menyimpan rahasia.
Serupa dengan film-film Bayu Skak sebelumnya, Sekawan Limo 2: Gunung Klawih masih berkutat pada upaya melupakan luka masa lalu. Bedanya, bukan manis-pahit cinta yang mesti dihadapi, melainkan barisan problematika yang jauh lebih kompleks sekaligus kelam. Gunung dengan segala misteri yang juga kerap dianggap selaku lokasi berkontemplasi merupakan panggung yang sempurna bagi kisahnya.
Sementara itu, humor milik Sekawan Limo 2: Gunung Klawih adalah apa yang bisa penulis sebut sebagai "komedi pinggir jurang". Dia mempersenjatai diri dengan berbagai banyolan khas tongkrongan yang cukup berisiko. Jika sobat nonton tidak mempermasalahkan tipikal komedi macam ini, maka Sekawan Limo 2: Gunung Klawih bakal memproduksi tawa tanpa henti. Apalagi film ini juga ditunjang jajaran pemain yang piawai melucu.
Menyaksikan Sekawan Limo 2: Gunung Klawih mungkin akan membuat kita teringat dengan film Agak Laen. Bagaimanapun juga, Sekawan Limo memiliki nafas yang sama dengan film komedi Indonesia terlaris sepanjang masa tersebut. Kedua film itu sama-sama sanggup menarik atensi orang awam untuk datang ke bioskop meski tidak bergelimang aktor kelas elite.
Kedua film tersebut juga mampu menciptakan cerita yang universal meski latar belakang kedaerahannya cukup kental. Harus diakui, bahwa film ini memang butuh formula yang lebih jitu untuk bisa menandingi capaian Agak Laen. Namun, rasanya Sekawan Limo tetap bisa mendapat tempat di hati penonton dengan warnanya sendiri.








