Review Senin Harga Naik: Tontonan yang Relevan bagi Siapa Saja yang Pernah Merindukan "Rumah"

Kolaborasi antara rumah produksi Starvision dan Legacy Pictures akan meramaikan libur Lebaran sobat nonton lewat film berjudul Senin Harga Naik. Sebuah judul yang selama ini identik dengan strategi pemasaran bisnis properti tersebut, di tangan produser Chand Parwez Servia, bertransformasi menjadi sebuah metafora emosional tentang pendewasaan diri dan hubungan antarmanusia.
Senin Harga Naik berkisah tentang perjalanan Mutia (Nadya Arina) yang meninggalkan rumah demi mengejar kesuksesan. Namun, jalan hidup membawanya kembali ke titik awal ketika kariernya di bidang properti justru mengancam keberlangsungan toko roti legendaris milik ibunya, Retno (Meriam Bellina).
Pertentangan antara ambisi dan ikatan keluarga membuat Mutia harus menghadapi pilihan sulit. Setelah tiga tahun membuktikan kemandiriannya, ia kini dihadapkan pada dilema besar: menegosiasikan penggusuran toko roti bernama Mercusuar yang merupakan warisan sang ibu. Konflik ini lantas membuka kembali luka lama sekaligus menguji arti keluarga, cinta, dan pengorbanan.
Kasih sayang seorang ibu adalah anugerah cinta yang rasanya tak akan ada batasnya. Sesuatu yang nilainya bahkan sulit diukur. Dan Senin Harga Naik mampu memperlebar makna itu lewat dua hal yang paling menyentuh, pengorbanan dan tempat untuk pulang.
Omelan ibu, masakan ibu, dan kenangan kecil yang diam-diam selalu dijaga oleh ibu menjadi detail yang membuat Senin Harga Naik terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal sederhana itu yang justru membuat sobat nonton akan ikut terenyuh. Puncaknya kemudian terjadi ketika film ini menyingkap makna pengorbanan seorang ibu. Di titik itu, emosi yang dibangun sejak awal akhirnya menemukan bentuknya. Air mata yang jatuh seakan menjadi bahasa paling jujur untuk merespons ketulusan yang ditawarkan film ini.
Hal lain yang menjadi keunggulan film ini adalah, bahwa konflik di film ini tidak membuat kita menghakimi ibu ataupun anaknya. Melainkan kita diajak untuk memahami masing-masing perspektif dan bagaimana kita harus mengalah demi menemukan titik tengah dan menjaga keutuhan keluarga.
Orang tua tidak bisa terus memegang kendali keluarga dan memaksakan kehendak seiring tumbuh kembang anak-anaknya serta perubahan struktur keluarga. Begitupula anak yang perlu lebih membuka mata dan hati seiring kemunculan ego yang membuatnya tidak lagi bisa menangkap bentuk kasih sayang dari orang tuanya.
Pada akhirnya, Senin Harga Naik terasa sangat relevan bagi siapa saja yang pernah merindukan rumah yang bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang di mana hubungan yang sempat retak perlahan diperbaiki oleh setiap anggota keluarga. Film ini juga ingin menanamkan pesan bahwa keluarga bukanlah tentang siapa yang paling benar, melainkan tentang bagaimana setiap orang bersedia memahami, memaafkan, dan kembali merajut hubungan yang sempat retak.








