Review Gohan: Drama Keluarga yang Menghibur dan Mengharukan

Film dengan tema persahabatan manusia dan anjing sudah menjadi komoditi populer di luar sana. Mulai dari anjing setia nan atletis dalam film Air Bud yang populer pada tahun 90-an, hingga kisah yang menyentuh dalam Hachiko dan Marley & Me.
Thailand pun seperti tak ingin kalah. Lewat rumah produksi GDH, mereka kembali memperkenalkan karya terbarunya melalui film drama emosional berjudul Gohan. Karya ini sendiri segera menarik minat publik tak lama setelah trailer dan sinopsis resminya dipublikasikan secara luas.
Film Gohan sendiri akan mengisahkan perjalanan hidup seekor anjing bernama Gohan selama lebih dari satu dekade. Cerita dibagi menjadi tiga fase kehidupan Gohan, mulai dari masa kecil, dewasa, hingga tua, bersama pemilik yang berbeda-beda.
Di awal cerita, Gohan kecil dirawat oleh seorang pria lanjut usia asal Jepang bernama Hiro yang tinggal dan bekerja di Thailand.
Hiro digambarkan sebagai sosok hangat yang memberikan kasih sayang penuh kepada Gohan.
Kehidupan mereka terlihat sederhana namun penuh kebahagiaan. Selama bersama Hiro, Gohan tumbuh dengan penuh perhatian dan cinta. Namun, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Setelah Hiro pergi, kehidupan Gohan berubah drastis.
Memasuki masa remaja, Gohan harus menghadapi berbagai tantangan hidup yang jauh lebih berat. Ia kehilangan tempat tinggal dan akhirnya berada di penampungan anjing. Perjalanan hidup Gohan kemudian berlanjut ketika ia memasuki usia tua. Dalam fase ini, Gohan akhirnya bertemu dengan seorang remaja yang kembali memberinya perhatian dan kasih sayang. Kehadiran pemilik baru tersebut menjadi titik penting dalam hidup Gohan setelah melewati banyak kesulitan.
Sebagai tokoh anjing protagonis, Gohan sudah mendominasi film sejak adegan pertama. Dari mulai perkenalan karakter, hingga kemudian menghadapi rintangan yang pada akhirnya memberikan karakter pada tokoh anjing ini. Di samping itu, satu lagi aspek lainnya yang tidak terlihat canggung adalah interaksi antara karakter anjing dalam film ini dengan para aktor manusia.
Hubungan yang ditampilkan di sini juga memiliki perkembangan yang menarik, tidak sekadar menunjukan interaksi harmonis antara anjing dengan pemiliknya. Walaupun, dramatisasi cerita dan adegan-adegan klise tak masuk akal masih sulit untuk dilepaskan dari film bertema hewan seperti dalam Gohan ini.
Akan tetapi, hal di atas tadi memang bisa dimaklumi. Karena hal tersebut sudah menjadi usaha yang harus diselipkan untuk memberikan cerita dan perkembangan plot yang lebih dinamis. Hal ini tentunya menjadi salah satu risiko yang harus dihadapi ketika melibatkan karakter hewan di dalam sebuah naskah film.
Namun, di balik itu semua, apa sebetulnya tujuan utama dari sang sutradara tatkala membuat film bertema hubungan anjing dengan manusia seperti ini? Kebanyakan tujuan mereka tidak terlalu teknikal, hanya hendak menghibur dan menyentuh hati penontonnya dengan kisah keluarga yang hangat. Sesederhana itu. Nah, jika itu tujuannya, maka film Gohan ini telah berhasil menjadi film drama keluarga yang menghibur dan mengharukan.








