Review Semua akan Baik-baik Saja: Berikan Perspektif Baru soal Pengorbanan dan Penerimaan

Setelah menggarap dua film horor, aktor Baim Wong kini kembali sebagai sutradara lewat film terbaru berjudul Semua akan Baik-baik Saja. Berbeda dari dua karya sebelumnya, kali ini Baim menghadirkan genre drama keluarga yang berfokus pada kisah perjuangan seorang ibu. Tak tanggung-tanggung, kali ini Baim Wong menggandeng Reza Rahadian dan sederet nama besar lainnya, seperti Christine Hakim, Raihaanun, hingga Happy Salma.
Cerita dalam film Semua akan Baik-baik Saja akan berfokus pada kisah keluarga Langit (Reza Rahadian), yang semenjak kematian kakak tertuanya, Mentari (Happy Salma), harus dihadapkan dengan tanggung jawab baru sebagai sosok orang tua dari anak-anak Mentari.
Namun, kepulangan Langit disambut dingin oleh Malika (Aquene Djorghi), si sulung yang berbakat musik namun penuh luka dan ketidakpercayaan. Tak hanya Malika, Langit juga harus menghadapi Shaffa (Shaffa Almira) yang tengah terguncang dalam transisi remajanya yang rapuh, serta Alim (Alim), si bungsu berkebutuhan khusus yang menjadi sasaran perundungan di sekolah.
Di tengah konflik harta dan adab yang dipicu oleh Ilham (Teuku Rifnu Wikana), mantan suami Tari, Langit bersama adik-adiknya, yakni Bintang (Raihaanun), yang menyimpan rahasia kelam serta Banyu (Ari Irham) yang terjebak kepalsuan dunia maya, harus meruntuhkan ego masing-masing.
Di bawah cinta teduh Ibu Wida (Christine Hakim), mereka belajar bahwa kehilangan adalah satu-satunya cara untuk akhirnya saling menemukan kembali dan membuktikan bahwa bagi keluarga, segalanya pasti akan baik-baik saja.
Well, jikalau sobat nonton memang gemar dibuat naik darah, maka film ini bisa jadi pilihan. Karena naskah buatan Oka Aurora ini akan memastikan tiap tindakan yang dilakukan oleh beberapa karakternya bakal menyulut amarah kalian. Ya, film ini adalah tipikal film yang tiap sudutnya menyediakan masalah. Entah berupa penderitaan yang karakter perempuannya alami, atau polah mengesalkan dari karakter si ayah.
Sayangnya, durasi yang cenderung terlalu panjang justru tak dipakai untuk menghantarkan cerita solid, melainkan hanya disusun atas sketsa-sketsa kaya derita yang seluruhnya sarat skenario klise. Baik ide dari naskah maupun pengadeganan Baim Wong selaku sutradara juga tak menyisakan jejak kreativitasnya di sini.
Walau demikian, Semua akan Baik-baik Saja masih tetap menyisakan relevansi. Filmnya pun coba menyadarkan soal pentingnya bagi setiap insan untuk mempelajari kemandirian, ketimbang memercayai anggapan kalau pernikahan adalah jalan keluar dari segala permasalahan.
Meskipun, lagi-lagi, Semua akan Baik-baik Saja tidak pernah benar-benar memberdayakan, akibat penggambaran jajaran tokoh perempuannya yang begitu pasif, seolah dipaksa menikmati segunung derita hanya demi mengemis tangis dari penonton. Padahal film ini tidak kekurangan jajaran pelakon perempuan yang piawai memamerkan kekuatan mereka.
Tapi, apapun itu, Semua akan Baik-baik Saja adalah film yang wajib ditonton bagi sobat nonton yang menyukai drama keluarga yang mengena di hati. Bagi kalian yang merasa sedang memiliki hubungan rumit dengan keluarga, maka film ini akan memberikan perspektif baru soal pengorbanan dan penerimaan.








