Review Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa: Suguhkan Momen Body Horror yang Epik nan Megah

Rumah produksi Soraya Intercine Films kembali melanjutkan semesta horor legendaris Suzzanna lewat film terbarunya berjudul Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa. Film ini menjadi proyek remake ketiga setelah sebelumnya meraih perhatian besar melalui Suzzanna: Bernapas dalam Kubur dan Suzzanna: Malam Jumat Kliwon. Mengusung tema santet, dendam, dan cinta terlarang, film ini akan menjanjikan kisah horor yang tak hanya menakutkan, tetapi juga sarat konflik batin.
Film ini sendiri akan berfokus pada sosok Suzzanna (Luna Maya), seorang perempuan desa yang dikenal baik hati dan pendiam. Tanpa disadari, Suzzanna diam-diam menjadi objek cinta Bisman (Clift Sangra), penguasa desa yang terkenal kejam, ambisius, dan haus kekuasaan. Penolakan Suzzanna atas perasaan Bisman justru memicu amarah besar dalam diri pria tersebut.
Dikuasai oleh ambisi dan rasa memiliki yang berlebihan, Bisman melakukan tindakan keji dengan menyantet ayah Suzzanna hingga meregang nyawa. Kematian sang ayah menjadi pukulan telak bagi Suzzanna dan meninggalkan luka mendalam yang perlahan berubah menjadi dendam membara. Dalam keputusasaan dan rasa kehilangan, Suzzanna mulai menapaki jalan gelap dengan mempelajari ilmu santet demi membalas perbuatan Bisman.
Seiring waktu, Suzzanna menyadari bahwa dunia yang ia masuki bukanlah jalan tanpa harga. Kekuasaan Bisman ternyata jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Teror demi teror mulai menghantui, bukan hanya musuh-musuhnya, tetapi juga dirinya sendiri. Praktik santet yang dijalaninya perlahan menggerogoti batin dan nuraninya.
Serupa Bernapas dalam Kubur dan Malam Jumat Kliwon, film ini juga didesain sebagai tontonan yang mahal serta mewah. Tidak heran musik garapan Aghi Narottama rutin memperdengarkan alunan ala-ala film blockbuster. Begitu pun tata efeknya yang akan memperlihatkan efek praktikal kelas satu. Dikawinkan oleh pengarahan Azhar Kinoi Lubis yang juga spesialis film horor, sehingga film ini banyak menghadirkan momen body horror yang epik nan megah.
Tentunya sobat nonton turut menantikan interpretasi Luna Maya atas figur Suzzanna, yang sekali lagi, mampu mendatangkan kepuasan. Luna sepertinya paham betul cara membawakan gaya dramatik yang over-the-top, baik di cara bicara, ekspresi, maupun gestur, yang dahulu mendefinisikan akting si Ratu Horor Suzzanna.
Akan tetapi, sayangnya, hal-hal di atas tadi telah kita temui di film pertama dan keduanya. Sehingga, alih-alih berusaha mengembangkan lalu meningkatkan, film ini justru hanya sebatas ingin mengulangi hal-hal tadi. Bukan masalah besar andai saja kualitas seluruh pengulangan itu setara. Sayangnya, tidak demikian.
Naskah karya Sunil Soraya, Ferry Lesmana, dan Jujur Prananto ini makin memperparah kelemahan penceritaan film sebelumnya yang berjalan draggy di banyak titik, entah di momen dramatik atau komedik yang dimotori oleh Adi Bing Slamet, Ence Bagus, dan Aziz Gagap. Khusus perihal komedi, efektivitas humornya berkurang drastis karena kerap bergulir terlalu lama.
Bicara soal teror, film ini rupanya kembali mengedepankan gore, yang masih mendatangkan hiburan menyenangkan, walau tidak sekuat pendahulunya akibat naskah yang tak seberapa kreatif menggali variasi metode pembunuhan. Sekali lagi, ini bukan film buruk, apalagi bencana. Film ini hanya luput memberi ruang bagi pengembangan dan peningkatan kualitas.
Tapi apapun itu, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa tetap mampu melahirkan spirit film-film Suzzanna terdahulu yang merupakan wujud totalitas hiburan, yang meski punya tujuan utama menakut-nakuti, namun menolak malu-malu untuk menyentuh ranah kekonyolan, baik melalui komedi maupun cara metode membunuhnya yang over-the-top. Suzzanna: Santet: Dosa di Atas Dosa adalah sebuah hiburan paket lengkap bagi semua kalangan yang seru disaksikan beramai-ramai di studio bioskop.








