Review The Dangers in My Heart: The Movie: Tampil Cantik dari Segi Cerita dan Visual

Setelah dua musim penuh drama remaja percintaan yang menggemaskan, kisah cinta Ichikawa Kyotaro dan Yamada Anna akhirnya hadir dalam format layar lebar dalam The Dangers in My Heart: The Movie. Film ini bukan sekadar rangkuman dari serial televisinya, melainkan akan menghadirkan pula adegan tambahan yang menjadi kelanjutan kisah keduanya usai musim keduanya berakhir.
Pada dasarnya, cerita dalam The Dangers in My Heart: The Movie akan berpusat pada Kyotaro Ichikawa (Shun Horie), seorang siswa SMP yang cenderung menyendiri dan memiliki imajinasi gelap. Ia sering membayangkan dirinya sebagai tokoh utama dalam film bergenre psychological thriller, serta memikirkan berbagai skenario aneh mengenai teman-teman sekelasnya.
Namun, di balik sikap murung tersebut, Kyotaro sebenarnya hanyalah remaja yang canggung dalam bersosialisasi. Kehidupannya mulai berubah setelah ia semakin dekat dengan Anna Yamada (Hina Youmiya), siswi populer yang dianggap sebagai idola di kelasnya. Kyotaro kemudian menyadari bahwa Anna ternyata memiliki sisi canggung dan hangat daripada yang ia bayangkan. Kedekatan mereka perlahan berkembang menjadi hubungan yang hangat, penuh momen lucu, sekaligus menggambarkan pengalaman cinta pertama di masa remaja.
Ya, menyaksikan The Dangers in My Heart: The Movie tak ubahnya seperti menaiki wahana roller coaster yang mengacak-acak emosi sedemikian rupa di sepanjang perjalanannya. Momen-momen romantis serta dramatis yang menghiasi film ini dijamin akan tetap membayangi sobat nonton lama sampai setelah melangkahkan kaki ke luar bioskop.
The Dangers in My Heart: The Movie tidak saja cantik ditinjau dari cara si pembuat film menggulirkan cerita, tetapi juga cantik secara visual. Kelihaian duo sutradara Hiroaki Akagi dan Dali Chen dalam membingkai spektakel memanjakan mata memang tidak perlu diragukan mengingat itulah keunggulan utamanya. Mereka berdua sanggup menciptakan standar lebih tinggi lagi ketimbang serial televisinya. Hal tersebut sekaligus membuktikan bahwa corat-coret di atas kanvas pun bisa menghasilkan daya magis sama besarnya dengan sebuah CGI.
Hal menarik lainnya, Hiroaki Akagi dan Dali Chen juga sanggup membuat penontonnya turut merasakan kecemasan lantaran terkoneksi secara emosi pada dua karakter utamanya. Sejatinya, dua karakter utama kita adalah karakter biasa-biasa saja yang bisa kalian temui di sekitaran, entah dalam wujud saudara, teman, tetangga, atau malah diri kita sendiri. Itulah mengapa begitu probabilitas perjumpaan keduanya menciut, akan muncul ketidakrelaan di dalam diri kita.
Kita ingin melihat mereka berdua bersatu, entah bagaimana caranya. Dengan turut dipermainkannya ekspektasi penonton tadi, maka proses menuju akhir ceritanya pun kian menarik untuk disimak. Bagusnya, sang pembuat film ini tidak semata-mata mengabdikan dirinya untuk mengkreasi jalinan kisah mendayu-dayu dalam perjalanan asmara dua karakter utamanya demi menguras air mata penonton. Sang pembuat film justru menaruh perhatian lebih pada detil-detil lain semacam kultur setempat, hingga rancangan latar lokasi yang mendekati kenyataan, sampai-sampai sanggup meyakinkan kita semua bahwa ini tak lebih dari sekadar film animasi berbasis romansa fantasi belaka.
Overall, The Dangers in My Heart: The Movie adalah sebuah tontonan yang tersusun atas beragam emosi di dalamnya, di mana masing-masing akan mencuat untuk saling menguatkan alih-alih melemahkan. Sobat nonton akan dibuat tertawa olehnya, lalu merasakan kecemasan, kemudian mendapatkan sensasi tegang, dan pada akhirnya akan dibuat menangis, entah disebabkan haru atau keindahan filmnya.








