Loading your location

Review The Death of Robin Hood: Sebuah Inovasi yang Unik dan Impresif

By Ekowi04 Juli 2026

Jika selama ini sosok Robin Hood terkenal sebagai pahlawan yang merampok orang kaya demi membantu rakyat miskin, The Death of Robin Hood justru menawarkan sisi yang sangat berbeda. Film terbaru produksi A24 ini akan menghadirkan kisah penutup sang legenda dengan nuansa jauh lebih gelap, brutal, dan emosional.

Berbeda dari adaptasi Robin Hood pada umumnya, film ini sendiri akan mengambil latar ketika sang legenda telah menua. Di mana ia harus menghadapi konsekuensi dari kehidupan penuh kekerasan yang selama ini ia jalani.

Dikisahkan, Robin Hood (Hugh Jackman) mengalami luka parah setelah sebuah pertempuran yang diyakininya menjadi pertarungan terakhir dalam hidupnya. Dalam kondisi kritis, ia diselamatkan oleh seorang perempuan misterius bernama Sister Brigid (Jodie Comer) yang merawatnya di sebuah biara terpencil.

Di sanalah Robin mulai menghadapi masa lalu yang selama bertahun-tahun menghantuinya. Kesempatan untuk bertahan hidup berubah menjadi perjalanan batin yang memaksanya mempertanyakan seluruh pilihan hidup, kekerasan, hingga legenda yang selama ini melekat pada namanya.

Well, pernahkah sobat nonton dibuat bertanya-tanya, bagaimana kehidupan para sosok pahlawan di masa tuanya? Apakah kekuatan mereka masih setara atau kian meredup seiring berlalunya usia? Akankah jauh dari hingar bingar pertempuran membuat mereka menemukan kedamaian atau justru sebaliknya? Apabila sobat nonton pernah mempertanyakannya, maka berbahagialah, karena Michael Sarnoski akan menggulirkan jawaban-jawabannya melalui film ini.

Michael Sarnoski selaku sutradara coba merajut nuansa gritty di mana sosok Robin Hood digambarkan semakin individual, egois, bahkan suicidal. Pergerakan tone dunianya menjadi kelam tapi tetap realistis. Walaupun adegan-adegan flashback-nya tidak dihadirkan dengan gamblang, akan tetapi tiap unsur dalam bangunan dunianya tetap mampu terhampar rapi, lengkap, yang bila disusun dapat membentuk satu gambaran utuh.

Sebagai sebuah film yang intim dan personal, Michael Sarnoski jelas tidak ragu untuk melucuti kepribadian sang karakter utama filmnya: yakni satu sosok pria dengan kisah kejayaan di masa lalu yang kini tampil begitu rapuh akibat dimakan usia serta konflik yang harus ia hadapi melawan dirinya sendiri. Jelas, hal ini memberikan Hugh Jackman kesempatan untuk menampilkan kekuatan aktingnya jauh lebih dalam dan emosional dari apa yang pernah ia tampilkan sebelumnya.

Michael Sarnoski juga dengan sabar menggiring tempo penceritaan, menyisihkan waktu untuk eksplorasi drama mengenai sang karakter superior yang kini rapuh, berkontemplasi mencoba memahami eksistensi sambil seiring perjalanan belajar lagi apa artinya kebersamaan dan kekeluargaan. Tapi sobat nonton tak perlu khawatir perihal lambatnya pace drama yang bakal melelahkan, sebab sang sutradara paham betul kapan mesti berjalan pelan, dan kapan waktunya menginjak gas sekuatnya.

Secara keseluruhan, The Death of Robin Hood merupakan sebuah film yang impresif. Berbagai unsur yang jarang ditampilkan di film-film Robin Hood sebelumnya, yaitu nuansa tragedi yang mendalam dan murung, berhasil dikemas secara unik di sini. The Death of Robin Hood tidak diragukan lagi adalah sebuah inovasi baru sekaligus pencapaian istimewa yang akan membuka jalan baru bagi genrenya.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

Cerita Lila
Supergirl
Tanah Runtuh
Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!!

COMING SOON

Harga Teman
The Longest Wait
Datang Akan Pergi
Djamin Setia Selamanya