Loading your location

Review Losmen Melati: Horor dengan Visual Kelas Internasional

By Ekowi17 Maret 2023

Di tengah stagnansi genre film Indonesia, termasuk kekhawatiran sebagian orang terhadap kesamaan premis sejumlah film horor yang sedang dan akan tayang, sesekali ada yang mencoba menggebrak tapi seringkali, seperti sebelumnya, tak sampai berlanjut menjadi trend. Losmen Melati yang merupakan produksi Catchplay+ dan Infinite Studios ini agaknya juga bernasib demikian.

Losmen Melati bercerita tentang sebuah penginapan terpencil nan misterius yang dikelola oleh seseorang yang bernama Madam Melati (Alexandra Gottardo). Para pelancong yang menginap di losmen tersebut nantinya akan dihadapkan pada beragam mimpi buruk. Bahkan, mereka tidak akan pernah terlihat lagi setelah menutup pintu penginapan yang penuh sejuta misteri tersebut.

Ditulis naskahnya langsung oleh Mike Wiluan bersama Freya Bennet ini terasa sekali ditulis dalam bahasa Inggris, dengan persepsi yang sangat barat untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Belum lagi film ini juga dipenuhi oleh nama dan dialog-dialog baku yang terdengar janggal, sehingga membentuk pengisahan yang juga sama dangkalnya.

Begitu banyak karakter potensial yang lewat begitu saja tanpa kepentingan cukup, dramatisasinya juga kurang beremosi selagi selipan-selipan komikalnya kerap terasa tak bisa mulus membaur dengan violent tone yang dihadirkan.

Sementara adegan-adegan horornya sebagai salah satu jualan utamanya pun tak tergarap dengan maksimal. Mike Wiluan yang dibantu oleh Billy Christian selaku co-director dalam membuat adegan-adegan horornya, yang sudah memiliki staging serta desain produksi yang lumayan memadai, kebanyakan menjadi low impact dan kekurangan urgensi, juga secara keseluruhan tak bisa benar-benar total dalam memancing pacuan adrenalin sobat nonton.

Namun begitu, seperti yang sudah disinggung di atas, dari kelas produksi mega budget tadi, Losmen Melati memang berhasil menghadirkan inovasi dalam desain produksi besutan Razzi Chan yang pernah menggarap film-film berskala internasional seperti Eat, Pray, Love dan Beyond Skyline. Saat menontonnya, kita semua akan dibuat percaya jika film ini dibuat dengan bujet raksasa.

Hal itu benar-benar sangat terlihat dari keseluruhan look yang menyamai produksi luar dan sama sekali tak seperti produksi lokal, sehingga mau tak mau membuat effort-nya sangat layak dihargai lebih demi semangat baru mengeksplor genre di film nasional.

Rasanya, sebagai sebuah tontonan yang utuh secara keseluruhan, Losmen Melati memang akan lebih nyaman dinikmati penonton asing yang membaca subtitle Inggris ketimbang mendengarkan dialog aslinya, karena memang sejatinya naskahnya dimaksudkan untuk ditulis seperti itu.

Sementara untuk penonton lokal, kejanggalan dialog terjemahan itu benar-benar terasa seperti kala sedang menyaksikan film-film Indonesia sejenis yang juga diterjemahkan dari skrip berbahasa Inggris seperti trilogi Merah Putih, misalnya.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

Vina: Sebelum 7 Hari
Malam Pencabut Nyawa
Do You See What I See: First Love
Civil War

COMING SOON

LAUT TENGAH
The Strangers: Chapter 1
Bangsal Isolasi
Breathe