Review 5 Centimeters Per Second (Live Action): Tawarkan Pengalaman Emosional yang Mendalam

Pekan ini, sobat nonton akan disuguhkan sebuah tontonan spesial, apalagi bagi sobat nonton penggemar karya legendaris Makoto Shinkai berjudul 5 Centimeters Per Second. Pasalnya, animasi tersebut kini hadir dalam versi live action. Adaptasi yang digarap oleh sutradara Yoshiyuki Okuyama dengan skenario yang ditulis oleh Ayako Suzuki digadang-gadang akan menyajikan pengalaman emosional yang tetap hangat namun dengan sudut pandang baru yang lebih mendalam.
Seperti versi animenya, film live-action ini akan dibagi ke dalam tiga babak cerita: Cherry Blossom, Cosmonaut, dan 5 Centimeters per Second. Ketiga babak tersebut menggambarkan tiga fase kehidupan Takaki (Hokuto Matsumura), sekaligus perjalanan emosionalnya dalam hubungan dengan sahabat masa kecilnya, Akari (Mitsuki Takahata).
Kisah bermula saat Takaki dan Akari bersekolah di sekolah dasar yang sama dan tumbuh menjadi sahabat karib. Kedekatan mereka perlahan diuji ketika keluarga masing-masing harus pindah ke kota berbeda. Setelah setahun berpisah, Takaki melakukan perjalanan dengan kereta dari Tokyo untuk bertemu kembali dengan Akari.
Di sepanjang perjalanan, kenangan masa lalu terus melintas di benaknya, memunculkan kerinduan sekaligus kegelisahan. Pertemuan itu membuat Takaki dan Akari mempertanyakan masa depan hubungan mereka serta perasaan rahasia yang selama ini terpendam.
Kita semua pasti paham bahwa cerita menjadi unsur penting pembangun sebuah film. Jika boleh jujur, 5 Centimeters Per Second bukanlah film dengan tema unik, justru ceritanya sangat klise. Hampir setiap orang pasti pernah mengalami kisah serupa. Namun, itulah kehebatannya. Film ini mampu mengubah sesuatu yang sederhana menjadi luar biasa.
Ada yang bilang, "Kata-kata adalah kunci dari sebuah cerita". Dan memang benar pernyataan tersebut. Dua cerita yang sama dengan pilihan kata berbeda akan menghasilkan emosi yang jauh berbeda. Bagi sebagian orang, narasi panjang akan terasa sangat membosankan. Tapi jika sobat nonton adalah seorang pecinta sastra, apalagi yang biasa membaca puisi dan novel, pasti akan suka dengan film ini. Terlebih, ada banyak sekali kata-kata mutiara di dalamnya.
Hal lain yang tak kalah penting yang bisa diambil dari film ini adalah nilai kehidupan. Bukankah setiap cerita itu diceritakan agar si pendengar bisa memetik pelajaran di dalamnya? Nah, film ini menawarkan banyak sekali pelajaran yang bisa kita dapatkan. Salah satu yang paling mengena adalah filosofi mengenai bunga sakura.
5 centimeter per detik sendiri adalah kecepatan bunga sakura yang jatuh ke bumi. Kecepatan itu sama dengan kecepatan metamorfosis manusia. Mulai dari kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga tua. Begitulah kehidupan bergerak secara perlahan tapi pasti membawa manusia pada perubahan.
Terakhir, kita berbicara mengenai unsur musik di filmnya. Selaku composer, Ayatake Ezaki sanggup menghadirkan beragam lirik yang penuh makna dan nada yang indah serta berpadu dengan baik pada setiap adegannya. Terutama adegan terakhir yang menyajikan potongan-potongan perjalanan hidup dua manusia yang pernah bertemu, berpisah, dan tak pernah bertemu kembali. Betapa mereka saling mencari dan berharap seperti orang putus asa. Saking menghayati, bisa-bisa sobat nonton akan menitikkan air mata ketika menyaksikannya.
Pada akhirnya, penulis amat merekomendasikan film ini untuk mereka yang mencari pengalaman emosional mendalam, bukan hanya sekadar sajian aksi atau plot twist semata. Dan tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pecinta versi animenya, penulis berani berkata bahwa versi live actionnya ini akan memberikan pengalaman menonton yang berkali-kali lipat. So, jika sobat nonton suka sekali dengan cerita bertema kehilangan, maka film ini wajib untuk ditonton!








