Loading your location

Review Backrooms: Mencoba Menyajikan Bentuk Alternatif dari Suguhan Horor

By Ekowi11 Juni 2026

Film berjudul Backrooms ini akhirnya siap meneror sobat nonton mulai pekan ini. Diproduksi oleh studio ternama A24, Backrooms akan menggabungkan unsur horor psikologis, misteri, dan fiksi ilmiah yang akan membawa penonton menyusuri dunia aneh yang penuh lorong kosong dan realitas yang terus berubah.

Film Backrooms mengisahkan tentang Clark (Chiwetel Ejiofor), seorang pria yang tanpa sengaja menemukan portal misterius di ruang bawah tanah toko furniturnya. Portal itu membawanya masuk ke Backrooms, dimensi aneh berisi lorong-lorong kosong tanpa ujung dengan suasana sunyi yang terasa mencekam.

Saat berusaha mencari jalan keluar, Clark menyadari bahwa ia tidak sendirian. Sesuatu yang tidak terlihat mulai mengawasinya. Makhluk misterius yang tidak diketahui wujudnya terus memburu Clark di dalam labirin Backrooms. Pengalaman mengerikan itu membuatnya berusaha mencari bantuan setelah berhasil keluar dari tempat tersebut.

Clark kemudian menceritakan pengalaman anehnya tersebut kepada terapisnya, Mary Kline (Renate Reinsve). Namun, Mary tak lantas percaya. Ia menganggap pengalaman Clark mungkin hanyalah halusinasi atau dampak psikologis dari tekanan yang sedang dialaminya.

Untuk membuktikan bahwa Backrooms benar-benar ada, ia mengajak asisten manajernya, Kat (Lukita Maxwell), serta pacar Kat, Bobby (Finn Bennett), masuk ke dimensi tersebut sambil mendokumentasikan seluruh perjalanan mereka. Namun ekspedisi itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Bobby diserang oleh entitas misterius dan menghilang.

Well, bayangkan ketika sobat nonton sedang sendirian di rumah pada malam hari. Kesendirian itu pelan-pelan berubah jadi ketakutan. Apalagi saat mulai muncul suara, yang sesungguhnya terdengar normal di waktu lain, namun kesendirian ditambah kegelapan malam memancing keliaran imajinasi. Setumpuk tanya pun menghantui pikiran. Nah, kira-kira itulah pengalaman yang coba ditawarkan oleh film ini.

Dibantu sinematografi arahan Jeremy Cox, Kane Parsons selaku sutradara coba mendominasi filmnya dengan wide lens yang mengintimidasi para penontonnya. Serupa situasi yang penulis gambarkan di paragraf sebelumnya, Backrooms adalah soal kekhawatiran akan adanya ketidakberesan di salah satu sudut rumah.

Bedanya, jika di kehidupan nyata kita bakal memilih tetap berlindung di "zona aman", maka kali ini Kane Parsons akan memaksa kita untuk mengecek sumber ketidakberesan dan menghadapi ketakutan tersebut. Di lain sisi, film Backrooms memang sulit dideskripsikan dan mesti dialami oleh sobat nonton sendiri.

Ya, Backrooms bukanlah sebuah pengalaman menonton yang mudah. Meski sinematografi berhiaskan efek kekuningan dan iringan tata suara statiknya ampuh membangun atmosfer, bohong kalau penulis bilang sama sekali tidak merasa lelah di sepanjang durasi filmnya. Dengan kata lain, Konsep Backrooms rasa-rasanya memang lebih efektif jika dijadikan sebuah film pendek.

Tapi tenang saja, di luar hal di atas tadi, sang sutradara rupanya masih jeli dalam membangun intensitas. Selama perhatian terus tertuju ke layar, tanpa sadar kita akan mendapati intensitasnya meningkat secara berkala, natural, terutama memasuki 30 menit terakhir. Perasaan menyesakkan sebagai hasil dari antisipasi berkepanjangan pun semakin mencengkeram.

Overall, Backrooms memang tidak diperuntukkan bagi semua orang. Bukan soal tinggi atau rendahnya selera penonton, karena tujuannya adalah bereksperimen, dan suatu eksperimen bertujuan menguji sesuatu. Kane Parsons seperti sedang ingin menguji bentuk alternatif dari suguhan horor.

Masih adakah cara tutur berbeda untuk medium yang telah amat sering diperas ini? Dan jawabannya "ada". Backrooms merupakan sebuah pondasi. Sebuah awal. Bisa jadi kelak hasil eksperimen ini bakal disempurnakan, kemudian melahirkan bentuk horor baru yang lebih matang.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

Sekawan Limo 2: Gunung Klawih
Backrooms
GOHAN
Jangan Buang Ibu

COMING SOON

The Death of Robin Hood
The Testament of Ann Lee
Andai Waktu Bisa Diulang Kembali
HIDARI