Review By Any Means: Yahya Abdul-Mateen II dan Mark Wahlberg Tampil Solid

Pekan ini, sobat nonton akan disuguhi sebuah film thriller kriminal-historis berdasarkan kisah nyata yang berjudul By Any Means. Disutradarai oleh Elegance Bratton serta dibintangi Yahya Abdul-Mateen II dan Mark Wahlberg sebagai dua tokoh dengan latar belakang yang sangat berbeda, By Any Means akan menceritakan tentang seorang agen FBI kulit hitam dan seorang pembunuh bayaran mafia terkenal yang terpaksa bekerja sama untuk menyelidiki pembunuhan pemimpin hak-hak sipil di Mississippi pada tahun 1966.
By Any Means akan mengikuti Wayne Strider (Yahya Abdul-Mateen II), seorang agen FBI muda berkulit hitam yang ditugaskan ke Mississippi untuk menyelidiki serangkaian pembunuhan brutal yang menargetkan para pemimpin dan aktivis hak-hak sipil. Kasus tersebut berlangsung di tengah situasi sosial yang penuh ketegangan dan dugaan keterlibatan kelompok supremasi kulit putih.
Dalam menjalankan misinya, sang agen FBI justru harus bekerja sama dengan Greg Scarpa (Mark Wahlberg), seorang pembunuh bayaran mafia terkenal yang juga memiliki hubungan sebagai informan FBI. Keduanya memiliki perbedaan besar dalam latar belakang, prinsip, dan cara menghadapi kekerasan. Meskipun demikian, situasi memaksa mereka membentuk aliansi yang tidak biasa untuk memburu pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.
Bisa dibilang, By Any Means hadir sebagai sebuah film aksi thriller metodis yang elegan. Mengikuti formula khas industri sinema arus utama, Elegance Bratton yang duduk di kursi sutradara, coba menyusun suguhan yang “berisik”, dan membawanya ke ranah buddy action dengan bumbu aksi guna memuaskan penonton sebanyak mungkin.
Bila tujuannya adalah meningkatkan nilai hiburan, maka By Any Means berhasil mencapai level tersebut. Rumus spesial tidaklah diperlukan di sini. Cukup ikuti formula paten subgenrenya, yakni menyatukan dua figur dengan kepribadian berlawanan. Ditunjang chemistry solid antara Yahya Abdul-Mateen II dan Mark Wahlberg, unsur thrilling pun senantiasa mengisi tiap sudut cerita.
Walaupun, jika boleh jujur, daya hibur film ini sedikit melemah tiap kali naskahnya berusaha untuk “bercerita”. Gaya tutur Sascha Penn selaku penulis naskah yang seolah memegang prinsip "semakin kompleks, semakin cerdas" justru kurang sinkron dengan upaya By Any Means menyajikan hiburan ringan. Ya, naskahnya membuat kasus yang sejatinya amat sederhana terkesan seperti konspirasi semrawut.
Untungnya, babak penutupnya sendiri diisi oleh barisan laga mendebarkan dan sanggup membayar rembetan alur yang dibangun sebelumnya. Meski kemudian sulit menghindari kesan jika garis besar kisah dalam By Any Means ternyata beda tipis dengan sebuah opera sabun.
Terlepas dari itu, By Any Means tetap menarik untuk diikuti. Yahya Abdul-Mateen II dan Mark Wahlberg mampu memberi impresi kuat sebagai pra syarat utama di sebuah buddy-movie. Cukuplah menjadi ikon aksi-laga terbaru dan membuka jalan bagi sebuah waralaba. Entah yang lain, tapi penulis lumayan penasaran dalam mengikuti aksi duo ini berikutnya. Kalau memang ada, tentu saja.








