Review Dear You: Hadirkan Dinamika Keluarga yang Dekat dengan Keluarga Asia

Film drama keluarga asal Tiongkok berjudul Dear You resmi hadir di bioskop Indonesia mulai pekan ini. Mengusung cerita yang sarat emosi, film ini akan mengajak sobat nonton mengikuti perjalanan seorang cucu yang berusaha mengungkap masa lalu keluarganya melalui jejak sejarah yang telah terkubur selama puluhan tahun.
Kisah dalam Dear You akan berpusat pada Ye Shurou (Shaoqing Wu), seorang nenek keturunan Teochew yang sepanjang hidupnya terus menanti kabar sang suami yang menghilang sejak masa gelombang migrasi ke Asia Tenggara. Harapan yang tak pernah padam itu kemudian diteruskan oleh cucunya, Xiaowei (Runqi Zheng), yang memutuskan pergi ke Thailand demi menemukan keberadaan kakeknya.
Petunjuk yang dimiliki Xiaowei hanyalah sebuah qiaopi atau surat yang dahulu dikirim para perantau kepada keluarga di kampung halaman. Dari surat itulah perjalanan dimulai, hingga perlahan membuka rahasia lama yang selama ini tersimpan dan mengubah pandangannya terhadap sejarah keluarganya.
Well, dari sinopsis di atas, kita mungkin sudah tahu akan ke mana kisahnya bakal bermuara. Tapi siapa yang peduli di saat proses menuju ke sana mampu menghadirkan beragam emosi, dari tawa hangat sampai tangis haru. Di sisi lain, baik pengarahan Lan Hongchun maupun naskah yang ditulis oleh Yang Leng, Zheng Xuanxuan, dan Zhu Liyun sama-sama jeli merumuskan tearjerker yang menyentuh tanpa harus terkesan mengemis tangis.
Lan Hongchun berhasil membangun dinamikanya secara bertahap. Cenderung lambat di paruh awal yang berfungsi sebagai fase observasi, sebelum akhirnya meledakkan emosi ketika memastikan penontonnya sudah terikat dengan para karakternya. Ya, Dear You tetaplah sebuah tearjerker yang dibuat untuk membanjiri pipi sobat nonton dengan air mata.
Seberapa pun kalian menahan cucuran air mata, kemungkinan besar tembok tersebut bakal runtuh di endingnya yang begitu indah. Terbersit sebuah pertanyaan saat menyaksikan adegan tersebut; apakah tangisan yang tumpah dikarenakan penggarapan filmnya yang bagus, atau semata karena penonton (termasuk penulis) segera mengaitkan peristiwa di layar dengan kenangan personal?
Jawabannya bisa saja keduanya. Dear You terasa dekat karena ia paham betul dinamika keluarga, khususnya keluarga Asia. Bagaimana berkumpul bersama anggota keluarga merupakan momen hangat yang selalu dinanti, pun bagaimana kesepian selepas kebersamaan terasa begitu menyengat terutama bagi para lansia di luar sana. Kenangan tentang segala kebersamaan itulah warisan berharga yang sesungguhnya.
Overall, meskipun alurnya mudah tertebak, namun kekuatan Dear You tetap terletak pada pengemasan cerita, pengembangan karakter, dan pengambilan gambar yang cukup apik. Film ini menjadi sebuah perjalanan napak tilas yang mengingatkan kita akan kemanusiaan, keluarga, serta makna hidup.








