Loading your location

Review Dilan ITB 1997: Terasa Lebih Sederhana, Intim, dan Dewasa

By Ekowi02 Mei 2026

Film berjudul Dilan ITB 1997 rupanya akan membuka babak baru dalam semesta karya Pidi Baiq. Jika sebelumnya sobat nonton disuguhkan kisah cinta remaja yang ringan dan penuh gombalan, kali ini cerita bergerak ke fase yang lebih matang, dengan konflik yang lebih dalam dan latar sosial yang jauh lebih serius tentunya.

Kisah dalam film Dilan ITB 1997 ini akan berlatar di Bandung tahun 1997, di saat Dilan (Ariel Noah) telah menjalani kehidupan sebagai mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Sosoknya sudah jauh berubah dari anak SMA yang gemar tawuran menjadi pribadi yang lebih tenang, reflektif, dan kritis terhadap keadaan sekitar.

Di fase ini, Dilan menjalin hubungan yang stabil dengan Ancika (Niken Anjani). Namun, dinamika emosional mulai muncul ketika Milea kembali ke Bandung. Pertemuan mereka menghadirkan konflik batin yang tidak sederhana. Bukan sekadar nostalgia, tetapi juga refleksi tentang pilihan hidup dan masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.

Di sisi lain, kehidupan kampus membawa Dilan ke lingkungan yang penuh diskusi intelektual dan pencarian jati diri. Sebagai mahasiswa seni, ia mulai melihat dunia dengan perspektif yang lebih filosofis. Cerita semakin kuat dengan latar situasi politik Indonesia menjelang masa Reformasi. Dilan pun dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan cintanya atau fokus pada masa depan.

Hal baru yang terlihat dari film Dilan terbaru ini tentu saja adalah bergantinya pemeran Dilan. Ariel Noah muncul sebagai mantan panglima geng motor, yakni Dilan yang sudah dewasa dan kini berkuliah di Institut Teknologi Bandung. Pergantian ini membuat pesona Dilan cukup berubah drastis ketimbang ketika diperankan oleh Iqbaal Ramadhan.

Sebuah perubahan yang positif pastinya, karena tampak kedewasaan dari pembawaan Ariel itu sendiri. Berbeda dari Iqbaal yang cocok untuk karakter Dilan ketika SMA yang urakan dan petakilan, Dilan versi Ariel terasa lebih kalem. Namun tak melupakan kebandelan khas dari karakter Pidi Baiq ini.

Dilan ITB 1997 tentu saja tidak akan menampilkan tawuran antar geng lagi, walau ada satu adegan pengeroyokan singkat. Beberapa rayuan manis masih dilontarkan karakternya, namun tidak sepuitis dan segombal di film-film Dilan sebelumnya. Dibanding para pendahulunya, film ini punya skala yang lebih kecil, terasa lebih sederhana serta intim, dan tentunya dengan pendekatan yang lebih dewasa.

Walaupun begitu, toh Dilan ITB 1997 adalah cerita yang sama, namun dengan dinamika berbeda. Penokohan Dilan mengalami perkembangan. Tetap eksentrik, tetap kaya akan teknik merayu aneh, namun lebih matang. Sedangkan hal-hal di luar unsur romantikanya juga kembali datang sebagai bumbu penyedap.

Sayangnya, naskah olahan Pidi Baiq dan Adhitya Mulya ini masih menyisakan pengembangan cerita yang setengah matang. Tidak perlu sampai membahas subplot politik terkait peristiwa jelang reformasi, perihal yang lebih mendasar macam konflik cinta segitiganya pun masih gagal tampil maksimal. Alhasil, stake-nya terasa rendah.

Tapi, apapun itu, setidaknya Dilan ITB 1997 masih berhasil memberi konklusi yang pantas bagi waralabanya. Berkat penampilan dua pemain utama, 1 jam 50 menit durasinya tak berakhir sia-sia, terlebih sewaktu barisan lagu-lagu yang manis sekaligus emosional, setia mengiringi perjalanan mereka.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

Dilan ITB 1997
The Magic Faraway Tree
Project Hail Mary 2026

COMING SOON

Believe: The Ultimate Battle
Backrooms
Dukun Magang
Warkop DKI: ViRaLiN dOoOoNg..!!