Loading your location

Review Badut Gendong: Terasa Beringas, Tapi Juga Lembut

By Ekowi27 Mei 2026

Kehadiran film Badut Gendong cukup membawa napas segar bagi genre horor yang selama ini mendominasi perfilman Indonesia. Film garapan Charles Gozali ini tidak bergantung pada setan bermuka menyeramkan atau jumpscare murahan yang muncul selama lima menit sekali. Sebaliknya, film ini memilih jalur yang lebih kelam, yakni kisah tragedi tentang manusia yang perlahan berubah menjadi monster.

Film Badut Gendong mengisahkan pasangan suami istri Darso (Marthino Lio) dan Darsi (Dayinta Melira), dua pengamen jalanan yang hidup serba kekurangan. Demi mencari nafkah, Darso mengamen menggunakan boneka badut yang digendong di bagian depan tubuhnya. Meski miskin, mereka hidup bahagia. Terlebih ketika Darsi memberi kabar bahwa dirinya tengah hamil.

Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Darsi meninggal secara tragis dan meninggalkan Darso dalam duka yang begitu dalam. Hancur secara mental, Darso memutuskan kembali ke kampung halamannya tanpa menyadari bahwa desanya sedang berada di tengah konflik berdarah dengan perusahaan rakus yang ingin menguasai kebun tebu milik warga.

Situasi makin kacau ketika Ki Kamboja (Barry Prima), tetua desa yang murka terhadap ketidakadilan itu, melontarkan kutukan lewat ritual misterius. Dalam momen tersebut, matanya tertuju pada boneka yang selalu digendong Darso. Sejak saat itu, rentetan pembunuhan brutal mulai terjadi. Warga ditemukan tewas tanpa wajah dan Darso mulai mengalami kejadian aneh setiap kali dirinya kehilangan kesadaran. Lalu, apa sebenarnya yang merasuki Darso?

Charles Gozali sekali lagi membuktikan keahliannya dalam menggabungkan horor dengan elemen aksi dan drama. Berbeda dari film horor lain yang sering kali bergantung pada hantu desa atau kuntilanak, Badut Gendong rupanya menawarkan narasi yang brutal namun tetap humanis.

Badut Gendong bukannya tanpa cela. Dibanding film horor garapan Charles Gozali sebelumnya, Badut Gendong cenderung inferior. Tapi, di saat bersamaan, film ini tetap memiliki sesuatu yang jarang ditemui di film horor tanah air, yakni protagonis likeable yang dapat dengan mudah kita dukung perjuangannya.

Banyak sekali momen di film ini yang memudahkan sobat nonton untuk bersimpati lalu mendukung seluruh hal yang kelak Darso alami. Apalagi Marthino Lio tampil luar biasa menghidupkan karakter yang bak perwujudan sempurna dari figur "jagoan ala sinema aksi Hong Kong" yang kerap jadi rujukan Charles Gozali.

Beruntung, penanganan Charles Gozali terhadap adegan aksi masih sekuat biasanya. Dibantu tata kamera arahan Hani Pradigya yang bergerak dengan begitu dinamis, Charles menghantarkan berbagai adegan baku hantam yang terasa brutal tanpa perlu secara berlebihan bergantung pada gore layaknya tren yang tengah menguasai pasar horor lokal. 

Pada akhirnya, di luar beberapa kekurangan pada departemen penceritaan, Badut Gendong tetap memiliki pencapaian karena mampu menyeimbangkan otot dengan hati. Terasa beringas tapi juga lembut. Perihal kekuatan di aspek dramatik, Marthino Lio kembali unjuk kebolehan mengolah emosi. Berkatnya, upaya Badut Gendong melahirkan horor yang tak sekadar meletakkan fokus pada figur iblis dan bersedia mengedepankan humanisme pun mampu tercapai.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

Sekawan Limo 2: Gunung Klawih
Project Hail Mary 2026
Sunshine Women's Choir
Ghost In The Cell

COMING SOON

The Mummy 4
Pulang Kampung
I Love Boosters
Dolly