Review Hamnet: Hadir dengan Pesan yang Kuat dan Mampu Menyentil Sanubari Penontonnya

Tahun 2026 membawa angin segar bagi para penggemar drama sejarah dan sastra ketika film Hamnet akhirnya tiba di layar lebar Indonesia setelah proses adaptasinya yang panjang. Diangkat dari novel laris karya Maggie O’Farrell yang terbit tahun 2020, Hamnet menceritakan tentang kisah cinta dan kehilangan yang sangat pribadi di balik karya terbesar William Shakespeare, sebuah tragedi yang mengubah hidup sang penyair selamanya.
Film Hamnet akan menyoroti tragedi yang menimpa keluarga kecil Agnes (Jessie Buckley) dan William (Paul Mescal) ketika putra mereka, Hamnet (Jacobi Jupe), meninggal dunia akibat wabah penyakit. Kehilangan itu menjadi pukulan besar yang mengguncang keseimbangan hidup mereka, sehingga meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi serta luka yang terasa begitu dalam.
Di tengah kesedihan yang mendalam, Agnes harus tetap berdiri tegar demi anak-anaknya yang masih hidup. Situasi ini membuat sosok Agnes diharuskan untuk menjadi seorang ibu yang kuat meskipun kesedihan itu masih terasa. Perjuangannya bukan hanya tentang merelakan, tetapi juga tentang menemukan kembali makna hidup di tengah kehilangan yang tak terbayangkan.
Hamnet, sejauh yang bisa penulis tangkap adalah mengenai sebuah penerimaan. Dalam pengemasannya, film ini berusaha menampilkan kisah yang jelas-jelas dibuat dengan harapan membuat penontonnya tersentuh, tapi juga mampu menginspirasi dengan melihat perjuangan Agnes dan William. Tapi sangat disayangkan, film ini masih belum mampu memaksimalkan potensi yang dimilikinya.
Untuk membuat film yang mengharukan tentu lebih mudah daripada membuat film yang menginspirasi. Untuk menguras air mata penonton, tinggal sajikan saja sebuah kisah dengan karakter yang memiliki kisah hidup menyedihkan, sajikan momen-momen menyedihkan dengan sedikit dilebih-lebihkan, maka akan lahir sebuah film sedih atau biasa disebut dengan tearjerker.
Akan tetapi, selaku sutradara, Chloé Zhao nampaknya enggan membuat film ini menjadi sebuah sajian melodrama, tapi juga berusaha membuatnya menjadi film yang menginspirasi. Sayangnya, hasil akhirnya justru menjadi tanggung di kedua sisi. Mengurangi adegan penguras air mata yang sebenarnya berpotensi muncul di beberapa bagian, Hamnet tidak mampu terasa mengharukan, setidaknya bagi penulis.
Tapi tenang. Meskipun ada beberapa hal yang masih kurang maksimal, toh penulis masih bisa menikmati film ini khususnya di paruh akhir yang memang berpotensi menjadi babak yang mengiris hati. Alunan musik dari Max Richter juga tak berhenti untuk memainkan perasaan sobat nonton.
Overall, walaupun masih ada beberapa kekurangan, Hamnet tetap hadir dengan pesan yang kuat dan seharusnya mampu menyentil sanubari siapa pun yang menontonnya. Kebaikan yang mungkin terlihat sederhana ternyata bisa punya dampak besar kepada kehidupan orang lain.








