Loading your location

Review Harusnya Horor: Kocak dan Mengasyikkan, Tidak Lebih

By Ekowi22 Agustus 2026

Film berjudul Harusnya Horor ini menjadi salah satu proyek yang cukup menarik perhatian karena mempertemukan dunia kreator konten dengan genre horor komedi. Film ini juga menandai debut Reza Oktovian alias Reza Arap sebagai sutradara film layar lebar.

Tak hanya berada di balik kamera, Reza juga tampil sebagai salah satu pemeran utama. Di sisi lain, film ini memiliki nilai emosional karena menjadi karya layar lebar terakhir mendiang selebgram Lula Lahfah yang telah menyelesaikan proses syuting sebelum meninggal dunia pada Januari 2026 silam.

Film Harusnya Horor sendiri bercerita tentang sekumpulan konten kreator yang berusaha membuat konten horor. Mereka bertemu dengan sosok Mas (Arap), hantu gentayangan muda yang baru saja meninggal dunia.

Dikisahkan, Mas dikirim kembali ke Bumi untuk menyelesaikan tugas dari petugas alam baka. Ia harus menakuti 100.000 orang supaya ia bisa mendapatkan reward: menonton anime yang tak bisa lagi ia nikmati setelah meninggal dunia. Yes, si Mas memang seorang wibu akut. Mirip seperti karakter Reza Arap yang memerankannya.

Sama-sama memiliki kepentingan yang sama, baik Mas dan geng kreator ini lantas berembuk untuk bisa menghasilkan konten yang menakutkan. Si Mas demi bisa mencapai targetnya, dan para kreator melakukannya supaya bisa viral dan mendapatkan banyak uang. Lalu, berhasilkah mereka semua menuntaskan misinya masing-masing?

Diperkirakan akan menjelma sebagai sebuah tontonan garing kriuk-kriuk, Harusnya Horor justru membuat penulis kecele dengan sajiannya yang memiliki kandungan hiburan mencukupi. Memang secara garis cerita, film ini tidak dikaruniai keistimewaan karena plotnya yang klise dan begitu mudah ditebak ke mana akan bermuara. Tetapi, apa yang membuat Harusnya Horor terasa unggul ketimbang film sejenis adalah ketepatan dalam pengaturan comic timing.

Reza Arap rupanya memahami betul waktu yang dirasanya sesuai untuk melontarkan lawakan-lawakan kreasinya, sehingga ketika “bom” dijatuhkan, ada dampak kuat yang dirasakan sehingga secara otomatis ledakan tawa pun terpantik. Bagusnya, tidak sedikit pula guyonan, walau masih berkutat di area slapstick, yang kemunculannya dari suatu adegan yang bisa jadi tidak sobat nonton duga sebelumnya. Alhasil, kita pun akan sukses digiring memasuki momen-momen penuh kegilaan yang menyenangkan di sini.

Lain cerita tentang pendekatan artistik. Sebagai sutradara, Reza Arap sepertinya sadar tengah membuat sebuah film, bukan semata merekam lawakan. Berbagai gaya, termasuk komedi visual pun diterapkan. Reza Arap jelas ingin bergaya, malah kadang terkesan ingin pamer referensi.

Tapi, apakah hal tersebut bisa disebut sebagai style over substance? Ya. Namun apakah keliru? Tidak juga. Setidaknya, penyutradaraan Reza Arap masih membuat Harusnya Horor tampil cukup segar. Penulis pun yakin, seiring pengalaman serta pendewasaan, kecenderungan untuk pamer gaya itupun perlahan bakal memudar.

Pada akhirnya, sekalipun Harusnya Horor masih kurang mampu memberi hentakan lebih pada penyelesaiannya, film ini masih terbilang berhasil dalam kaitannya menunaikan tugas sebagai film senang-senang pelepas penat. Kocak dan mengasyikkan.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

Ayah, Aku Mau Cerita!
Sajen Satu Suro
Deep Water
DEAR YOU

COMING SOON

The Conjuring: First Communion
Teenage Mutant Ninja Turtles: Mutant Mayhem 2
The Resurrection of the Christ: Part One
I Love Boosters