Review Paket Santet: Film Horor yang Potensial, Tapi...

Setelah sukses melalui film-film seperti Perempuan Tanah Jahanam hingga serial Gadis Kretek, rumah produksi BASE Entertainment kini menghadirkan sebuah film horor terbaru berjudul Paket Santet yang mulai tayang di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus ini.
Berbeda dari horor yang berpusat pada rumah angker atau ritual mistis, Paket Santet sendiri akan mengangkat kisah sekelompok mahasiswa yang diteror setelah menerima kiriman paket misterius tanpa identitas pengirim. Rasa penasaran yang awalnya dianggap sepele justru berubah menjadi awal dari rangkaian teror gaib yang mengancam nyawa.
Film Paket Santet akan berkisah tentang kehidupan sekelompok mahasiswa yang terdiri dari Deva (Fatih Unru), Bela (Yasamin Jasem), Celia (Gabriella Eka Putri), Ale (Fadly Faisal), Firza (Fiki Naki), Glen (Farandika), dan Kiki (Azela Putri). Awalnya, mereka menjalani kehidupan kampus seperti biasa hingga sebuah paket misterius tiba tanpa nama maupun identitas pengirim.
Karena penasaran, mereka memutuskan untuk membuka paket tersebut. Namun, sejak paket dibuka, kehidupan mereka berubah menjadi mimpi buruk. Teror demi teror mulai bermunculan, membuat setiap anggota kelompok berada dalam ancaman. Situasi semakin mencekam ketika mereka menyadari bahwa paket tersebut berkaitan dengan santet. Kutukan yang telah lepas begitu saja dan terus memburu mereka tanpa henti. Sementara korban mulai berjatuhan satu per satu.
Di tengah kepanikan tersebut, Deva bersama teman-temannya berusaha mencari tahu siapa sosok di balik paket misterius tersebut. Mereka harus mengungkap asal-usul kutukan sekaligus menemukan cara untuk menghentikannya sebelum semuanya menjadi terlambat.
Well, Paket Santet sebenarnya merupakan horor yang sangat potensial, apalagi disutradarai oleh Dinna Jasanti, seorang sineas yang memiliki portofolio yang jarang mengecewakan. Dan benar saja, karena hampir di tiga perempat bagiannya akan berhasil membuat kita bergidik ketakutan sekaligus penasaran tentang siapa dalang di balik paket-paket misterius yang dikirimkan kepada korbannya. Walaupun, skripnya masih bisa dipoles dan dimatangkan lagi agar film ini bisa menjadi sebuah film body horror yang kuat.
Lihat saja opening filmnya yang sudah amat menjanjikan. Penulis amat menyukai bagaimana pakem “santet-santetan” dibelokkan menjadi pendekatan yang sedikit berbeda dari pakem horor lokal yang biasanya. Bayangkan, belum ada 5 menit berjalan, namun film ini telah berhasil melahirkan intensitas horor yang kuat. Tapi begitu filmnya memasuki pertengahan hingga akhir, ceritanya menjadi draggy. Gorenya kadangkala brutal, tapi seperti tidak berguna karena seperti hanya menjadi pemanis semata.
Namun untungnya, Paket Santet masih bisa dijadikan tontonan ringan untuk seru-seruan belaka di bioskop. Atmosfernya juga cukup terbangun, walaupun lagi-lagi tidak dibarengi dengan cerita dan ketegangan yang kuat. Hasil akhirnya malah menjadi horor yang memiliki potensi, tapi kurang meninggalkan rasa takut maupun kesan setelah ditonton, padahal seharusnya mampu meninggalkan pengalaman yang lebih kuat lagi.
Meski pada akhirnya Paket Santet masih meninggalkan beberapa catatan, namun langkahnya untuk menyajikan tontonan seram yang berbeda tetap layak diapresiasi. Terlebih lagi, penggarapannya pun sama sekali tidak berada di kelas yang kacangan. Dan cukup menarik melihat kiprah seorang Dinna Jasanti jika di masa depan dirinya masih melirik genre horor untuk dieksplor kembali.








