Review Ikatan Darah: Suguhkan Adegan Aksi yang Sangat Menghibur

Sinema Indonesia kembali menghadirkan tontonan laga yang menjanjikan. Film berjudul Ikatan Darah ini siap meramaikan layar bioskop Tanah Air dengan kombinasi aksi pertarungan intens dan cerita keluarga yang emosional. Film produksi Uwais Pictures ini sebelumnya sudah lebih dulu mencuri perhatian penonton internasional. Bahkan, Ikatan Darah sempat melakukan world premiere dalam ajang film bergengsi Fantastic Fest di Texas, Amerika Serikat.
Kisah dalam film Ikatan Darah akan berfokus pada tokoh Mega (Livi Ciananta), seorang mantan atlet pencak silat yang kini menjalani kehidupan sederhana sebagai pelayan restoran. Mega mencoba menjalani hidup yang tenang setelah meninggalkan dunia olahraga yang pernah membesarkan namanya.
Namun, kehidupan yang ia bangun perlahan berubah drastis ketika sang kakak, Bilal (Derby Romero), terjerat utang dalam jumlah besar. Situasi yang awalnya tampak sebagai masalah finansial biasa justru berkembang menjadi konflik yang jauh lebih berbahaya. Masalah semakin rumit ketika Bilal secara tidak sengaja membunuh seorang pria bernama Henri.
Kematian Henri tersebut lantas memicu kemarahan besar dari Primbon (Teuku Rifnu Wikana), kakak Henri (Dimas Anggara), yang tidak terima dengan kematian adiknya. Primbon kemudian memimpin perburuan untuk membalas dendam kepada Bilal. Mega yang tidak ingin kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki merasa tidak punya pilihan lain selain turun tangan. Ia pun harus kembali menggunakan kemampuan bela dirinya yang selama ini ia tinggalkan.
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, plot maupun subplot yang disuguhkan di dalam film ini sebenarnya hanya berfungsi sebagai landasan untuk aksi A berpindah pada aksi B. Hasilnya? Kisah sederhana yang tentunya tidak perlu sobat nonton perhatikan dalam-dalam, karena fokus sebenarnya hanya terletak pada membangun nuansa mencekam dan melegakan hati sebelum kemudian dihajar dengan deretan aksi yang bertubi-tubi.
Nah, tentunya “daging utama” dari film Ikatan Darah ini ialah adegan aksinya, dan seperti klaim terhadap film ini, Tata Sidharta selaku sutradara berhasil menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Sinematografi dari Ferry Rusli pun hanya berfungsi membangun mood semata daripada memberikan pesan berarti di dalamnya. Tidak jarang, fokus kameranya lebih tertarik mempertontonkan hasil muncratan darah yang sangat tidak cocok bagi sobat nonton yang gampang mual.
Tampaknya, penyakit yang paling sering muncul dari film-film aksi yang maksimal seperti ini adalah hadirnya dialog-dialog yang hanya ada untuk dilontarkan sebagai kalimat basa-basi semata. Tapi, ironisnya, lontaran kalimat kasar ke sana dan ke mari tadi malah membuat interaksi antar karakter di film ini menjadi lebih alami, ketimbang saat para karakternya memasuki ranah drama.
Overall, ketiadaan alur yang mumpuni mungkin saja berpotensi menjadikan film ini akan dibenci oleh para sinefil yang mencari sajian action-drama berkualitas. Namun, Ikatan Darah merupakan satu dari sedikit sajian laga modern yang akan dengan senang hati penulis kunjungi lagi tatkala membutuhkan hiburan, baik menyeluruh atau parsial guna menikmati sajian adegan fighting-nya secara terpisah.








