Loading your location

Review Iron Lung: Sajikan Eksperimen Psikologis yang Berani dan Tanpa Kompromi

By Ekowi26 Februari 2026

Setelah belum lama ini kita disuguhi oleh Return to Silent Hill, kini satu lagi film diadaptasi game horor akan tayang pada awal tahun 2026 ini. Film tersebut ialah Iron Lung, sebuah adaptasi dari game indie berjudul sama yang cukup fenomenal setelah dirilis pada tahun 2022 lalu.

Disutradarai, ditulis, diedit, serta dibintangi sendiri oleh YouTuber beken Mark Fischbach, Iron Lung akan mengambil latar di masa depan dalam kehidupan pasca-apokaliptik setelah kejadian yang disebut The Quiet Rapture, yang menyebabkan hilangnya planet layak huni. Satu-satunya tempat tersisa yang menyelamatkan manusia adalah stasiun dan pesawat luar angkasa.

Demi mencari tempat layak huni baru, Simon (Mark Fischbach), seorang narapidana, dikirim untuk melakukan misi berbahaya tadi. Ia diutus untuk mengeksplorasi laut darah yang misterius, menggunakan kapal selam kecil nan rapuh bernama Iron Lung. Simon dilas hidup-hidup di mesin dan hanya bisa melihat kondisi luar dengan pandangan yang terbatas. Jika misi ini berhasil, ia akan mendapat kebebasan. Namun jika tidak, nasibnya akan berakhir tragis di kedalaman laut darah yang gelap dan misterius.

Sejatinya, Iron Lung menolak segala bentuk hiburan konvensional dan memilih menjerumuskan sobat nonton ke dalam ruang sempit penuh paranoia, trauma, dan delusi. Ini bukanlah sebuah film horor thriller biasa, melainkan tentang pikiran manusia yang perlahan runtuh ketika realitas dan ketakutan mulai saling bertabrakan.

Kekuatan utama Iron Lung terletak pada skenarionya yang sangat disiplin dan tanpa kompromi. Dialog-dialognya memang terdengar repetitif, obsesif, dan seringkali terdengar tidak rasional, namun justru di situlah kengerian sesungguhnya. Skripnya ditulis bukan untuk menjelaskan, melainkan untuk menjerat. Sobat nonton tidak diajak memahami, tetapi dipaksa ikut terperangkap. Skenarionya bekerja seperti loop mental, di mana ketakutan tidak dibantah, melainkan diperkuat melalui keintiman emosional.

Lewat debutnya, Mark Fischbach menyutradarai film ini dengan pendekatan minimalis yang cukup ekstrem. Tidak ada musik manipulatif berlebihan, tidak ada jumpscare murahan. Kamera sering statis atau bergerak perlahan, seolah enggan mengintervensi apa yang sedang terjadi di depan mata. Setting yang gelap dan sempit menjadi metafora visual bagi pikiran karakter-karakternya: tertutup, pengap, dan tanpa jalan keluar. Sang sutradara sepertinya memahami betul bahwa horor sejati tidak datang dari luar, tetapi tumbuh dari dalam pikiran manusia itu sendiri.

Penyutradaraan Mark Fischbach juga mencoba menciptakan ritme yang tidak ramah penonton. Film ini lambat, berulang, dan sengaja membuat frustrasi. Namun di situlah keberaniannya. Iron Lung seperti tidak peduli apakah sobat nonton akan nyaman dalam menonton atau tidak. Film ini lebih tertarik pada bagaimana delusi bisa menjadi bahasa visual tersendiri, dan bagaimana paranoia dari sang karakter bisa menjadi sumber ketakutan bagi para penonton.

Namun, film ini bukan tanpa kelemahan. Seperti yang sudah disinggung tadi, bagi sebagian penonton, pendekatannya yang repetitif bisa terasa melelahkan. Ritme yang minim variasi lokasi memang disengaja, tetapi juga membatasi dinamika visual. Dengan kata lain, Irong Lung memang menuntut kesabaran dan kesiapan mental, karena ini bukan film yang bisa dinikmati secara kasual.

Tapi, sebagai sebuah karya sinema, Iron Lung tetaplah merupakan eksperimen psikologis yang berani dan tanpa kompromi. Film ini tidak menawarkan jawaban, namun hanya menyajikan sebuah cermin yang retak. Dan dari retakan itulah, sobat nonton dipaksa untuk melihat betapa rapuhnya batas antara keyakinan dan kegilaan.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

Primate
Wuthering Heights
Scream 7
KAFIR: Gerbang Sukma

COMING SOON

PASUKAN 1000 JANDA
The Sheep Detectives
The Simpsons Movie 2
The Moment