Loading your location

Review Mercy: Akting Chris Pratt dan Rebecca Ferguson Juara!!!

By Ekowi22 Januari 2026

Film bertema Artificial Intelligence (AI) kini tampaknya tidak lagi hanya menjadi sebuah dongeng “fiksi ilmiah” belaka, melainkan cerminan dari kemajuan teknologi yang semakin nyata. Di era di mana kecerdasan buatan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita, genre film ini pun ikut berkembang, menyajikan cerita yang lebih segar dan relevan.

Salah satu film yang mengaplikasikan tema tersebut adalah Mercy yang disutradarai oleh Timur Bekmambetov. Film Mercy sendiri berlatar pada masa depan, tepatnya tahun 2029, di mana seorang detektif bernama Chris Raven (Chris Pratt) terbangun dan mendapati dirinya terikat di sebuah kursi eksekusi.

Chris dituduh membunuh istrinya dan hanya memiliki 90 menit untuk membuktikan dirinya tidak bersalah kepada Judge Maddox (Rebecca Ferguson). Maddox sendiri merupakan sebuah sistem AI yang canggih yang dalam pembuatannya sempat didukung oleh Chris. Lantas, bagaimanakah nasib Chris selanjutnya?

Sejatinya, Mercy bukan hanya sekadar kisah naratif linier. Lebih dari itu, film ini merangkum poin-poin sentral yang mendalami hubungan manusia dengan teknologi, sehingga menciptakan suatu bentangan kultural yang mendalam. Dengan kecerdikannya, sang sutradara akan mengajak sobat nonton merenung tentang dampak perubahan teknologi pada dinamika sosial dan personal.

Ramin Djawadi, dengan scoring musiknya yang menawan, memberikan Mercy momen yang tak terlupakan. Melalui melodi dan harmoni, musik gubahannya tak hanya menghiasi setiap adegan, tetapi juga menyampaikan latar emosional dan filosofis yang mendalam. Atmosfer futuristik film ini juga terasa lebih dalam dan lebih puitis, berkat kehadiran musiknya yang sempurna.

Dalam ranah akting, Chris Pratt berhasil membuktikan dirinya sebagai aktor yang mampu membawa karakter ke dimensi yang lebih tinggi lagi. Dalam perannya sebagai Chris Raven, terlihat jelas bahwa Pratt memainkan perannya dengan begitu tulus, membawa kompleksitas dan emosi karakternya ke permukaan. Pun dengan Rebecca Ferguson yang berhasil memberikan dimensi emosional yang mendalam. Keterlibatan keduanya menciptakan keharmonisan yang menggugah perasaan.

Belum lagi permainan gambar yang mendominasi palet visual Mercy. Hal ini menjadi salah satu elemen simbolik yang tak terelakkan. Dalam set yang sebagian besar futuristik, warna-warna yang ditampilkan di sini seperti menciptakan kontras yang menonjol antar para karakternya.

Lebih dari sekadar estetika, warna-warna tadi memainkan peran penting dalam menyampaikan makna, melambangkan keintiman, hubungan, dan juga mencerminkan keterhubungan manusia dengan teknologi. Dengan penuh keahlian, Timur Bekmambetov memanfaatkan warna ini untuk menangkap perasaan dan nuansa di setiap adegan, sehingga memberikan kehidupan pada cerita yang dipenuhi emosi ini.

Pada akhirnya, Mercy bukanlah sekadar film, karena ia adalah perjalanan emosional dan intelektual. Menggali makna kehidupan manusia dan hubungannya dengan teknologi, Mercy dengan jelas memotret kemanusiaan dengan jelas dan rinci. Film ini seakan juga mendefinisikan ulang atas makna identitas kita semua sebagai manusia di dalam dunia yang semakin terhubung secara digital akhir-akhir ini.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

We Bury the Dead
Modual Nekad
Musuh Dalam Selimut
Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle

COMING SOON

Nobody Loves Kay
Rush Hour 4
Jangan Seperti Bapak
Jangan Buang Ibu