Review Penerbangan Terakhir: Tawarkan Premis Segar soal Isu Perselingkuhan

Pekan ini kita akan disuguhkan oleh sebuah film berjudul Penerbangan Terakhir. Film Penerbangan Terakhir sendiri digadang-gadang sebagai sajian drama penuh emosi yang mengungkap sisi lain dunia penerbangan yang jarang diketahui publik. Bukan sekadar cerita tentang pesawat dan perjalanan di udara, film ini menyajikan konflik batin, skandal cinta, serta dilema profesional yang terjadi di balik seragam rapi para awak kabin.
Film Penerbangan Terakhir akan mengisahkan sosok Kapten Deva Angkasa (Jerome Kurnia), seorang pilot berwajah tampan dan berkarisma yang memiliki sisi gelap dalam hubungan personalnya. Deva digambarkan kerap melakukan love bombing kepada sejumlah pramugari, termasuk Tiara (Nadya Arina).
Tiara perlahan terjebak dalam hubungan manipulatif yang dipenuhi rayuan dan janji manis. Tanpa disadari, ia mengalami kontrol emosional, tekanan psikologis, hingga kehilangan kepercayaan diri serta batasan pribadi. Situasi tersebut berdampak serius pada kehidupan pribadi Tiara.
Tidak hanya secara mental, hubungan tersebut juga mulai mengancam karier dan keselamatan profesionalnya di dunia penerbangan. Tiara pun dihadapkan pada pilihan sulit, antara mempertahankan citra, melindungi masa depan kariernya, atau berani mengambil keputusan besar yang dapat mengubah jalan hidupnya. Lantas pilihan mana yang akan dipilih oleh Tiara?
Jika boleh jujur, di beberapa bagian, nuansa film ini memang masih terasa bak tayangan sinetron. Akan tetapi, konflik yang diangkat oleh film ini rupanya tetap relevan dan relate bagi sebagian besar penontonnya. Tak terbayang jika kita ada di posisi Tiara; sudah menjadi korban manipulasi, tapi justru malah diviralkan dan dituduh sebagai seorang pelakor.
Dari segi akting, Nadya Arina jelas menjadi highlight utama film ini. Dia mampu menampilkan emosi secara natural, tidak berlebihan, dan dijamin akan membuat sobat nonton ikut merasakan lelah mental yang dialami oleh karakternya. Aghniny Haque juga tampil kuat sebagai sosok karakter menyebalkan dan amat toxic.
Sementara itu, performa Jerome Kurnia masih terasa naik-turun. Di beberapa bagian, dia terlihat meyakinkan, tapi di momen emosional lainnya, level aktingnya belum bisa dikatakan sempurna. Terkadang, ia masih terlihat lebih mengandalkan visual atau fisik semata, ketimbang pendalaman emosinya. Dan untuk jajaran pemain pendukung lainnya, sayangnya masih belum ada yang terlalu memorable.
Akan tetapi, secara keseluruhan, film Penerbangan Terakhir masih tetap menghibur dan masih sangat layak untuk ditonton di bioskop. Film ini juga menjadi salah satu karya yang cukup segar yang mengambil premis soal perselingkuhan, apalagi dengan setting dunia penerbangan dan profesi yang jarang sekali diangkat di film-film Indonesia.







