Review Sadali: Drama Romansa yang Estetik nan Memanjakan Mata

Pekan ini, rumah produksi MVP Pictures kembali menghadirkan kisah yang sarat emosi dan perenungan lewat sebuah film berjudul Sadali yang merupakan sekuel dari film Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu yang dirilis pada tahun 2024 lalu. Masih berada di bawah arahan sutradara Kuntz Agus, Sadali kembali mengandalkan kekuatan narasi reflektif serta visual yang tenang, khas karya-karya sang sutradara.
Tiga tahun setelah perjodohannya dengan Arnaza (Hanggini) berakhir dan kisah cintanya bersama Mera (Adinia Wirasti) kandas, Sadali (Ajil Ditto) memilih untuk menjauh dari hiruk pikuk kota. Ia kini menetap di Magelang, menenggelamkan diri dalam dunia seni lukis, serta memfokuskan hidupnya untuk menyiapkan pameran tunggal sebuah pencapaian penting dalam perjalanan karier seninya.
Ketenangan itu terusik ketika Budi (Faiz Vishal), sahabat lamanya, datang membawa kabar yang mengguncang: Mera akan segera menikah. Luka lama yang belum sepenuhnya sembuh pun kembali terasa. Situasi semakin rumit saat Sadali dipertemukan kembali dengan Mera, bersamaan dengan kemunculan Arnaza dalam hidupnya.
Dua figur dari masa lalu tersebut memaksa Sadali menghadapi kembali kenangan, penyesalan, dan pertanyaan yang selama ini ia pendam. Terjebak di antara cinta, seni, dan pencarian makna diri, Sadali dihadapkan pada pilihan krusial: tetap terperangkap dalam bayang-bayang masa lalu atau berani melangkah menuju arti hidup yang baru?
Terselip di antara beberapa film yang rilis di minggu ini, Sadali rupanya berhasil muncul sebagai underdog dengan gaya pengemasannya. Diadaptasi dari novel karya Pidi Baiq yang juga menulis novel Dilan, film ini terwujud berkat arahan dari sutradara Kuntz Agus yang sudah familiar menyutradarai beragam genre, termasuk drama romansa seperti ini.
Ya, Sadali berhasil memamerkan pengemasannya yang estetik nan memanjakan mata serta penyusunan komposisi adegan yang rapi. Gaya penyutradaraan Kuntz Agus juga terlihat makin terasah, tidak gagap, dan hampir segalanya terlihat high-effort. Betapa cantiknya cara si filmmaker dalam membingkai suatu adegan dengan pencahayaan dan warna yang sempurna.
Hal lainnya yang patut mendapatkan kredit tentu saja ialah Adinia Wirasti yang berperan sebagai Mera. Ia lagi-lagi berhasil membangun kesan seorang wanita yang memikat tanpa mengandalkan stereotype “femme fatale” atau stigma “janda muda” layaknya genre-genre sejenis. Menurut penulis, keputusan tersebut amatlah penting, karena dengan begitu, sobat nonton akan menganggap Mera benar-benar sebagai sosok wanita impiannya.
Namun, bukan berarti keberadaan Hanggini yang berperan sebagai Arnaza bisa dilupakan begitu saja. Penulis tak lupa untuk memuji akting Hanggini yang walaupun singkat, tapi mampu menunjukkan potret sempurna sebagai seorang wanita yang memiliki impiannya sendiri. Sayangnya, hal tersebut masih belum berlaku bagi Ajil Ditto yang berperan sebagai karakter utama di sini. Di beberapa bagian, dialog yang dilontarkan olehnya masih terdengar kurang natural diutarakan.
Tapi tenang, karena sedikit kelemahan tadi masih bisa ditambal oleh presentasi film ini yang amat rapi. Kuntz Agus selaku sutradara memang punya kemampuan bercerita yang baik. Pendekatan naskahnya yang cenderung minim konflik besar justru mampu Kuntz manfaatkan. Menonton film ini terasa seperti sedang berjalan-jalan santai menikmati suasana sore yang nyaman di pedesaan.
Pada akhirnya, bila sobat nonton suka dengan drama bertipe quirky romance, film ini bisa menjadi pilihan yang tepat, karena film ini adalah drama romansa versi mature dari penulisan buku kawakan Pidi Baiq. Walaupun masih ada beberapa kekurangan, tapi film ini tetap menarik karena menawarkan refleksi tentang cinta, komitmen, dan pencarian jati diri.








