Loading your location

Review Salmokji: Whispering Water: Sajikan Atmosfer dan Teror Mencekam dari Waduk Salmokji

By Ekowi03 Mei 2026

Sebuah kabar gembira bagi sobat nonton pencinta sinema horor Korea Selatan, karena film horor yang tengah viral dan merajai box office di Negeri Gingseng berjudul Salmokji: Whispering Water dipastikan tayang di jaringan bioskop Indonesia mulai pekan ini.

Film Salmokji: Whispering Water sendiri akan mengangkat premis unik yang dekat dengan teknologi sehari-hari. Kisahnya berpusat pada sebuah tim produksi film yang dipimpin oleh Soo-in (Kim Hye-yoon). Awalnya, tim ini ditugaskan untuk melakukan syuting ulang di sebuah waduk terpencil. Hal ini dilakukan karena hasil rekaman kamera pemetaan jalan (street view) sebelumnya mengalami distorsi visual yang aneh dan menangkap sosok misterius yang tidak bisa dijelaskan secara logika.

Namun, pencarian jawaban atas kerusakan teknis tersebut justru membawa mereka ke dalam lingkaran teror. Mereka menemukan detail-detail meresahkan dalam rekaman yang tidak pernah mereka lihat saat berada di lokasi. Batas antara kerusakan teknis serta gangguan supranatural pun mulai kabur, dan akan mengungkap kekuatan kuno yang bersemayam di dasar Waduk Salmokji. Kekuatan apakah itu?

Sejujurnya, penulis sudah merasa cukup bosan dengan horor yang didasari gagasan bahwa manusia lebih takut pada hal yang tak nampak, serta penonton dibiarkan untuk berlama-lama menyaksikan ketiadaan, sebelum penantian itu berusaha ditebus oleh klimaks yang singkat. Namun, dalam Salmokji: Whispering Water, rasa kebosanan tadi coba dipatahkan.

Ya, kekosongan yang ditawarkan film ini memang terasa mencekam, sementara keheningannya memancarkan ketidakamanan. Di satu sisi, ini adalah tentang rasa takut akan sesuatu hal yang tak terlihat. Namun di sisi lain, ini juga soal rasa takut terhadap hal-hal aneh yang dapat kita lihat.

Skenario garapan Lee Sang-min (yang juga bertindak sebagai sutradara) rupanya ogah dalam hal memberi banyak porsi untuk eksplorasi misteri Salmokji itu sendiri, dan lebih membiarkan segalanya tersimpan di kegelapan. Alurnya memang sederhana, memakai formula standar film horor atmosferik yang memakan waktu sebelum mengungkap atraksi utamanya.

Akan tetapi, para pemainnya tampak meyakinkan dalam bersenang-senang, sekaligus menularkan perasaan serupa kepada para penonton, sebagaimana rasa takut berhasil ditularkan juga berkat akting yang tepat. Nihil penokohan mendalam memang. Tapi sebagai gantinya, kita justru akan diberi tokoh-tokoh menarik di dalamnya.

Di sisi lain, Salmokji: Whispering Water juga enggan bergantung semata pada trik jumpscare usang. Senjata utama yang mampu dimaksimalkan Lee Sang-min adalah atmosfer mencekam dari Waduk Salmokji yang memiliki begitu banyak sudut bagi para hantu untuk bersembunyi. Di sana pula tersebar begitu banyak “benda” untuk mereka permainkan guna menebar teror.

Keheningan yang ditawarkan film ini juga lumayan menyesakkan. Sebuah keheningan yang mampu melahirkan kecemasan yang didasari prasangka kita yang menanti para hantu untuk menampakkan wujud mereka. Sekalinya penampakan itu terjadi, sang sutradara mampu mengemasnya secara efektif. Sang sutradara sepertinya paham betul bagian mana dari si hantu tadi yang perlu diperlihatkan, dari sudut sebelah mana, dan gerakan kamera seperti apa. Kemampuan yang akan menggiring sobat nonton menuju parade teror kelas wahid di babak ketiganya.

Pada akhirnya, menonton Salmokji: Whispering Water merupakan sebuah pengalaman yang menyenangkan, karena penulis nyaris tidak menemukan kekurangan fatal dari film ini. So, jika sobat nonton merupakan pencari sensasi seram dan penyuka film horor berbasis teknologi, maka Salmokji: Whispering Water adalah sebuah tontonan yang tepat.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

The Magic Faraway Tree
Salmokji: Whispering Water
Project Hail Mary 2026
TIBA TIBA SETAN

COMING SOON

Pegasus 3
Avengers: Doomsday
How to Train Your Dragon (2025)
The Color Purple