Review Sebelum Dijemput Nenek: Sukses Menyentil Isu Ekonomi Kelas Bawah Tanpa Terkesan Menggurui

Di hadapan layar sinema, terlindung dalam ruang bioskop serta pemahaman bahwa mereka tengah menyaksikan kepalsuan, para penonton film cenderung merasa aman kala disuguhi oleh genre horor. Apalagi jika konteksnya digeser ke produk lokal dengan tendensi mengumbar muka demit tanpa memahami akar kengeriannya. Jangankan seram, kesan konyol justru kerap muncul. Sebelum Dijemput Nenek, selaku debut penyutradaraan dari Fajar Martha Santosa coba merangkul kekonyolan tersebut.
Film Sebelum Dijemput Nenek sendiri akan mengisahkan dua saudara kembar, Hestu (Angga Yunanda) dan Akbar (Dodit Mulyanto), yang memilih jalan hidup sangat berbeda sejak dewasa. Hestu memutuskan merantau ke kota demi mengejar kehidupan yang menurutnya lebih baik. Ia perlahan menjauh dari keluarga dan masa lalu di desa.
Sebaliknya, Akbar tetap tinggal di kampung halaman untuk merawat sang nenek, Marsiyem (Sri Isworowati), sosok yang telah membesarkan mereka sejak kecil. Hubungan Hestu dengan keluarganya sebenarnya telah retak hingga ia bersumpah hanya akan pulang jika Nenek meninggal. Ucapannya pun menjadi kenyataan. Sang nenek berpulang tepat pada hari keramat, Sabtu Wage bulan 6 tanggal 6, jam 6.
Kematian tersebut memunculkan kembali mitos lama di desa. Konon, siapapun yang meninggal pada tanggal dan jam tertentu akan meminta tumbal dari anggota keluarga yang masih hidup. Sejak saat itu, arwah Nenek terus memburu Hestu dan Akbar untuk ikut bersamanya.
Bisa dibilang, Sebelum Dijemput Nenek memiliki plot yang mengalir cepat. Namun, justru itu kekuatannya. Sang sutradara berhasil membuat narasi yang ringan tapi “layered”. Film ini juga sukses menyentil isu ekonomi kelas bawah tanpa terkesan preachy, malah lewat dialog tongkrongan yang terasa sangat relate dengan banyak orang.
Kalau dilihat dari segi naskah, film Sebelum Dijemput Nenek sebenarnya punya formula sederhana. Namun, yang membuatnya menarik adalah improvisasi dari para aktor. Banyak momen terasa spontan. Dialog mereka seperti percakapan nyata di tongkrongan yang kemudian berubah jadi kekacauan lucu.
Sayangnya, pacing di babak kedua agak terkesan berantakan. Editingnya juga terkadang kurang terkontrol, membuat timing komedinya menjadi kurang pas. Horornya juga lebih ke arah jumpscare ringan daripada mencekam, sehingga cocok bagi sobat nonton yang suka menjajal film horor yang tidak terlalu seram.
Meski bukan film dengan visual megah, film Sebelum Dijemput Nenek cukup berhasil menciptakan atmosfer urban yang hidup dan relevan. Hanya saja, beberapa bagian sinematografinya terasa butuh perhatian lebih, terutama pada adegan malam hari yang agak gelap dan kurang tajam.
Secara keseluruhan, film Sebelum Dijemput Nenek adalah sebuah komedi segar yang berhasil memadukan absurditas, kritik sosial, dan improvisasi organik dalam satu sajian ringan. Tak perlu berharap plot yang rumit, cukup nikmati kekonyolan para aktornya yang dengan jujur mencerminkan kehidupan banyak manusia belakangan ini.








