Review The Super Mario Galaxy Movie: Lucu dan Menggemaskan

Super Mario adalah salah satu waralaba gim paling fenomenal sampai saat ini. Sejak pertama kali diperkenalkan pada 1983, seri ini telah dikembangkan dalam berbagai format, yang tidak terbatas pada bentuk video gim di berbagai konsol dan perangkat permainan, tapi ke bentuk media lain termasuk film.
Dan kini, sambutlah The Super Mario Galaxy Movie, sebuah film animasi petualangan komedi yang dirilis oleh Illumination dan Nintendo, yang merupakan sekuel langsung dari The Super Mario Bros. Movie yang sukses besar meraup lebih dari 1,3 miliar dolar AS di seluruh dunia pada tahun 2023 silam.
Kali ini, kisah Mario dan kawan-kawan akan naik level, karena bukan hanya menyelamatkan kerajaan, tapi juga menjaga keseimbangan galaksi. Kisah dalam film ini akan berpusat pada ambisi baru Bowser Jr. (Benny Safdie) yang nekat menculik Princess Rosalina (Brie Larson), sosok penting penjaga galaksi dengan kekuatan luar biasa.
Aksi nekat itu dilakukan demi satu tujuan: membebaskan ayahnya, Bowser (Jack Black), yang sebelumnya ditahan di akhir film pertama.
Situasi pun makin genting. Para penjaga Rosalina langsung bergerak cepat dengan merekrut Princess Peach (Anya Taylor-Joy) dan Toad (Keegan Michael-Key) untuk menjalankan misi penyelamatan darurat.
Tak tinggal diam, Mario (Chris Pratt) dan Luigi (Charlie Day) pun ikut turun tangan. Demi melindungi Peach sekaligus menghentikan rencana jahat Bowser Jr., keduanya nekat meninggalkan Kerajaan Jamur dan menjelajah luar angkasa.
Jika boleh jujur, The Super Mario Galaxy Movie bakal menjadi mangsa empuk untuk diolok-olok. Alih-alih cerita solid, alurnya diisi oleh kompilasi fan service yang bertujuan membangkitkan nostalgia. Tapi film sendiri bukan hanya karya seni berkelas yang mengalienasi orang awam atau anak-anak. Keduanya sama-sama harus eksis demi terciptanya keseimbangan ekosistem. Di situlah film ini berperan.
Memang betul bahwa cerita film ini amatlah tipis. Tipisnya cerita membuatnya kurang bisa mengikat atensi, terutama di paruh awal. Pun walau tersimpan setumpuk potensi, naskahnya luput mengeksplorasi mitologi dunianya. Filmnya sadar betul kalau ia tidak dibarengi cerita kokoh. Maka dari itu, kelemahan penceritaannya coba dibayar lunas oleh kejeliannya dalam menyatukan elemen-elemen dari berbagai judul seri Super Mario.
Dihiasi oleh visual yang tak cuma kaya warna tapi juga bisa nampak megah kala dibutuhkan seperti di beberapa sekuennya yang epik, duo sutradara Aaron Horvath dan Michael Jelenic mampu membuat filmnya bertenaga. Yap, pencapaian terbaik filmnya adalah keberhasilannya dalam hal melempar fan service bagi pemain gimnya dari tiap generasi, khususnya dalam bentuk desain set piece aksi.
Hanya ada sedikit catatan yang masih terasa mengganjal dari film ini. Beberapa kali humornya masih terasa dipaksakan, entah memang tak bisa relate dengan seluruh penonton atau duo sutradara tadi berusaha keras agar film ini terlihat menyenangkan. Namun yang pasti, The Super Mario Galaxy Movie masih konsisten meninggalkan kesan yang sama seperti film sebelumnya, yakni lucu dan menggemaskan. Salah satu film yang bisa dinikmati antara anak dengan orang tuanya di libur panjang seperti saat ini.








