Loading your location

Review Ain: Sebuah Presentasi Horor yang Berani dan Brutal

By Ekowi10 Mei 2026

Sinema Indonesia kembali menghadirkan film horor yang sangat relevan dengan fenomena sosial masa kini. Mengangkat kisah penyakit atau gangguan yang bersumber dari rasa iri dan dengki dari orang lain, film berjudul Ain ini akan menyoroti bagaimana obsesi terhadap penampilan dan validasi bisa membawa dampak yang tak terduga.

Film Ain sendiri bercerita tentang Joy Putri (Fergie Brittany), seorang beauty influencer yang terobsesi meraih popularitas, termasuk menargetkan siaran langsung di TikTok ditonton hingga 10.000 orang. Ambisi tersebut dilatarbelakangi masa lalunya saat SMA, ketika ia merasa kurang percaya diri karena kondisi tubuhnya yang overweight dan minim perhatian.

Kini, setelah berhasil mengubah penampilannya, Joy justru semakin terobsesi untuk memamerkan kecantikan dan kehidupannya di media sosial. Namun, kebiasaannya itu menimbulkan kekhawatiran dari sahabat lamanya, Dini (Putri Ayudya), yang mencoba memperingatkan Joy tentang bahaya ain, yaitu penyakit yang muncul akibat rasa iri dan dengki dari orang lain.

Seiring berjalannya waktu, berbagai kejadian janggal mulai menghantui Joy. Perubahan fisik yang mengerikan terjadi secara perlahan, merusak kecantikannya dan memperburuk kondisinya. Teror yang dialaminya menjadi semakin nyata, seolah ada kekuatan tak terlihat yang menggerogoti dirinya. Dari sinilah, Joy mulai menyadari bahwa rasa dengki yang selama ini dianggap sepele bisa berubah menjadi ancaman yang mematikan.

Berbagai aspek produksi dalam film ini akan membawa sobat nonton ke dalam pengalaman body horror yang mengerikan dan immersive, terutama melalui sound effect dan mixing-nya yang membuat kita seperti berada di dalam tubuh sang karakter utama. Begitu pula dengan sinematografinya yang sangat stylish dan berani, yang turut diaplikasikan secara konsisten dari awal hingga akhir film.

Tata busana dan tata rias film ini juga patut diapresiasi dalam menghadirkan keindahan sekaligus mimpi buruk transformasi pada karakter Joy yang sangat esensial, layaknya film-film body horror lainnya. Ain merupakan film yang tak hanya brutal dan sadis secara visual, penulisan karakter dan konflik dalam kisahnya juga tak kalah brutal mengenai self-hate dan krisis kepercayaan diri yang sering kali dialami wanita, terutama dalam industri hiburan.

Kemampuan sutradara Archie Hekagery dalam mengeksekusi naskah yang “show, not tell” juga patut diberi pujian di sini, sehingga berhasil membuat Ain sebagai sajian yang melampaui ekspektasi penonton dengan penyampaian cerita secara visual yang cerdik. Sebagai film dengan genre body horror, cukup menakjubkan bagaimana Archie mampu menjelaskan cara kerja Ain yang cukup kompleks hanya melalui berbagai adegan yang minimalis dan efisien.

Secara umum, Ain patut menjadi contoh film horror yang seharusnya, yakni yang tidak terlalu bertele-tele secara dialog. Jalan cerita Ain secara keseluruhan juga mudah dimengerti, berbagai pesannya juga tergolong mudah dicerna, lepas dari konsep relijinya.

Dengan penceritaan yang jarang diangkat, presentasi yang berani dan brutal, serta penampilan para bintang yang berkesan, Ain sepertinya akan menimbulkan banyak pembicaraan, baik secara teknis produksi maupun dari muatan ceritanya.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

THAT TIME I GOT REINCARNATED AS A SLIME THE MOVIE: TEARS OF THE AZURE SEA
YANG LAIN BOLEH HILANG ASAL KAU JANGAN
Cyberbullying
Michael

COMING SOON

Silent Friend
Pengabdi Setan 3: Origins
Alarum
Harga Teman