Loading your location

Review Alas Roban: Film Horor dengan Drama Emosional yang Menyentuh

By Ekowi17 Januari 2026

Mungkin di antara sobat nonton pernah mendengar nama Alas Roban. Ya, Alas Roban merupakan sebuah jalur yang selama ini lekat dengan sebutan jalur tengkorak karena medannya yang ekstrem, kelokan tajam, tanjakan curam, serta kisah-kisah mistis di dalamnya. Saking tenarnya area tersebut, sineas Hadrah Daeng Ratu kemudian mengangkat kisah berlatar area tadi ke sebuah film layar lebar bertajuk Alas Roban.

Cerita dalam film Alas Roban akan berpusat pada Sita (Michelle Ziudith), seorang ibu tunggal yang selama bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan di Pekalongan, Jawa Tengah. Harapan baru muncul ketika ia mendapat pekerjaan di sebuah rumah sakit di Semarang. Demi memulai hidup yang lebih baik, Sita mengajak putrinya, Gendis (Fara Shakila), yang memiliki keterbatasan penglihatan, untuk melakukan perjalanan dengan bus malam yang harus melintasi kawasan Alas Roban.

Petaka mulai terjadi ketika bus terakhir yang mereka tumpangi tiba-tiba mogok di tengah jalur hutan yang dikenal angker. Sejak peristiwa itu, Gendis mulai mengalami kejadian ganjil. Ia kerap mendengar bisikan asing, menggambar simbol-simbol misterius, hingga mengalami kerasukan hampir setiap malam.

Menyadari ada sesuatu yang mengincar putrinya, Sita kemudian dibantu oleh sepupunya Tika (Taskya Namya) serta Anto (Rio Dewanto), seorang sopir ambulans yang paham betul mitos Alas Roban. Kini, perlahan mulai terungkap bahwa Gendis menjadi target Dewi Rara (Imelda Therinne), sosok gaib yang murka akibat janji ritual lama yang telah dilanggar.

Sejak awal film, Alas Roban rupanya langsung menarik perhatian lewat opening yang dieksekusi dengan cukup kuat. Penggunaan teknik point of view dari dalam kendaraan dipadukan dengan visual penampakan di pinggir jalan yang gelap dan minim cahaya berhasil membangun atmosfer yang mencekam. Opening tersebut terasa efektif dan cukup creepy untuk menarik sobat nonton masuk ke dunia Alas Roban.

Setelah pembuka yang intens tadi, cerita kemudian bergeser ke bagian drama, yakni hubungan antara Sita dengan putrinya, Gendis. Di bagian ini, film mulai menonjolkan sisi emosionalnya. Dinamika hubungan ibu dan anak digambarkan dengan cukup dalam. Sobat nonton juga diajak untuk merasakan beban batin Sita yang harus merawat anak dengan keterbatasan, sekaligus memahami sisi rapuh Gendis.

Di sela-sela konflik personal tadi, rangkaian adegan horor dan jumpscare mulai disebar oleh sang sutradara, meski secara eksekusi masih terasa cukup predictable dan belum menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Meski begitu, keputusan untuk menjadikan Gendis sebagai karakter dengan keterbatasan penglihatan mampu menghadirkan dua sudut pandang.

Di satu sisi, hal ini memang terasa seperti upaya memaksa empati dan simpati penonton, bahkan tak jarang memancing rasa gemas. Namun di sisi lain, kondisi tersebut justru dimanfaatkan dengan cukup cerdas untuk menghadirkan visual horor melalui sudut pandang “blurry” yang sangat efektif dalam memperkuat kesan kehadiran entitas gaib.

Overall, film Alas Roban ini cukup berhasil mengangkat urban legend dari salah satu jalur tengkorak di daerah Pantura dengan balutan horor yang dipadukan drama emosional. Meski tidak sepenuhnya menawarkan terobosan baru dalam genre horor, film ini tetap meninggalkan kesan lewat kekuatan cerita hubungan ibu dan anak yang menyentuh.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

Avatar: Fire and Ash
HAPPY PATEL: KHATARNAK JASOOS
Love Live! Nijigasaki High School Idol Club Final Chapter Part 2
RIBA

COMING SOON

Disclosure Day
The Hunger Games: Sunrise on the Reaping
KAFIR: Gerbang Sukma
Foufo