Loading your location

Review Lee Cronins The Mummy: Suguhkan Atmosfer Mencekam dan Jumpscare yang Efektif

By Ekowi15 April 2026

Setelah mencuri perhatian dengan film Evil Dead Rise, sutradara sekaligus penulis Lee Cronin kini kembali dipercaya untuk menghadirkan film horor terbarunya yang berjudul Lee Cronin’s The Mummy. Film ini disebut-sebut sebagai perpaduan nuansa antara film Poltergeist (1982) dengan Se7en (1995). Namun, benarkah demikian?
 
Kisah dalam Lee Cronin’s The Mummy bermula ketika seorang gadis kecil bernama Katie (Natalie Grace) tiba-tiba kembali ke keluarganya setelah menghilang selama delapan tahun di gurun pasir. Kepulangan Katie awalnya disambut dengan rasa haru dan kebahagiaan, karena keluarganya mengira mereka telah kehilangan Katie untuk selamanya. 
 
Namun, ternyata kelegaan itu tidak berlangsung lama. Seiring berjalannya waktu, perilaku Katie mulai menimbulkan kecurigaan. Ia tampak berbeda, bukan hanya secara emosional, tetapi juga secara fisik dan psikologis. Tatapannya kosong, sikapnya dingin, dan ia kerap menunjukkan reaksi yang tidak wajar terhadap hal-hal di sekitarnya.
 
Keluarga ini pun perlahan mulai menyadari bahwa gadis yang pulang bukanlah putri mereka yang dulu. Kehadirannya lantas membawa energi kelam yang memicu berbagai kejadian mengerikan di dalam rumah tersebut.
 
Well, premis sejenis ini mungkin saja berpotensi menyebabkan kejenuhan dikarenakan sudah berkali-kali diangkat. Namun, yang membuat film ini masih dapat dinikmati tanpa ada kesan jenuh adalah fokus utama dari film ini yang tidak menitikberatkan pada penyelesaian berupa solusi-solusi religius seperti exorcism atau pengusiran setan, melainkan pada ketegangan yang terjadi antara tokoh-tokoh yang terlibat dan tokoh yang sedang dirasuki roh jahat tersebut.
 
Meskipun film ini kental akan suasana supranatural, Lee Cronin selaku sutradara justru lebih mengeksplorasi suasana mencekam dibandingkan suasana seram. Beberapa jumpscare yang muncul di film ini justru tidak berujung pada penampakan sosok menyeramkan seperti yang biasa terjadi di film-film horor lainnya.
 
Sebagai sebuah sajian horor, Lee Cronin’s The Mummy mungkin menjadi salah satu yang terlengkap dalam beberapa waktu terakhir. Sisi gore-nya mungkin saja akan menjadi yang paling banyak dibicarakan. Unsur kekerasan miliknya memang menyenangkan, nampak menyakitkan, sekaligus variatif.
 
Tapi Lee Cronin turut menawarkan suguhan lain, yakni dari atmosfer mencekam berbekal olahan suara ciamik, jumpscare yang efektif, creepy imageries hasil perpaduan tata rias mumpuni dengan kebolehan sang karakter utama berekspresi, hingga intensitas tinggi berkat tata kamera dinamis yang mewakili histeria di dalam sebuah rumah yang bak neraka. 
 
Sebagian besar adegannya juga menggunakan angle kamera close-up yang kemungkinan bertujuan untuk membuat momen yang gore menjadi terasa lebih ngilu dan jijik. Selain itu, angle close-up ini juga membuat sobat nonton menjadi semakin tidak nyaman ketika menampilkan si karakter dalam jarak yang sangat dekat. Sementara itu, scoring-nya juga terdengar sukses membuat jantung kita berdebar keras sepanjang adegan mengerikannya tadi.
 
Akhir kata, Lee Cronin’s The Mummy menjadi salah satu kandidat horor terbaik tahun ini yang wajib jadi tontonan para penggemar genre horor. Dengan porsi ketegangan dan permainan darah yang “mengenyangkan”, film Lee Cronin’s The Mummy dapat menjadi opsi tontonan yang layak dinikmati sobat nonton di pekan ini.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

The Hostage's Hero
Project Hail Mary 2026
Dhurandhar: The Revenge
Yohanna

COMING SOON

Garuda Di Dadaku
Skyline: Warpath
Tumbal Proyek
Dune: Part Three