Review Lift: Klimaksnya Brutal dan Menghibur

Film thriller psikologis berjudul Lift siap menghantui sobat nonton mulai pekan ini. Menjadi debut penyutradaraan Randy Chans, film yang diproduksi oleh Trois Films bersama Maxima Pictures ini akan menghadirkan sensasi berbeda dengan menjadikan ruang terbatas sebagai pusat ketegangan. Ya, Lift akan coba membawa kita semua ke dalam situasi mencekam yang nyaris tanpa celah untuk melarikan diri, baik secara fisik maupun batin.
Cerita dalam film Lift bermula enam tahun setelah sebuah insiden tragis yang merenggut nyawa Gabriel (William Eduard Kalumata), Direktur Utama sebuah perusahaan bernama PT Jamsa Land. Kini, perusahaan tersebut kembali dilanda teror saat Hansen (Verdi Solaiman), sang direktur baru, menghilang secara misterius.
Di tengah situasi yang kacau, Linda (Ismi Melinda), staf humas perusahaan, terjebak di dalam lift yang macet bersama seorang mantan jurnalis yang kini menjadi podcaster, Anton (Max Metino). Ketegangan dimulai ketika suara asing lewat interkom mendikte gerakan mereka. Situasi kian genting saat Linda menyadari bahwa anaknya, Jonathan (Luthi Saputra), juga disandera oleh sang peneror.
Di luar lift, Doris (Shareefa Daanish), istri Hansen, turut terseret ke dalam pusaran masalah setelah menerima pesan misterius yang memaksanya datang ke kantor di tengah malam. Lantas, bagaimanakah nasib mereka selanjutnya? Dan siapakah sebenarnya peneror misterius tadi?
Film yang naskahnya ditulis oleh Aria CineCrib ini sebenarnya datang dengan pondasi skrip yang cukup menjanjikan. Sayangnya, skrip yang potensial ini tidak dibarengi dengan eksekusi penyutradaraan yang matang. Pembagian cerita menjadi beberapa part juga terasa kurang efektif karena perpindahan antar bagiannya terlalu cepat, sementara konflik di bagian sebelumnya belum benar-benar berkembang, sehingga membuat alurnya menjadi terasa melompat dan sulit bagi penonton untuk membangun keterikatan secara emosional.
Masalah krusial lainnya juga datang dari departemen akting dan teknis yang gagal menerjemahkan naskahnya. Banyak dialog yang sebenarnya oke di atas kertas, tapi terdengar tidak natural dan cenderung cringe saat diucapkan. Hal itu juga diperparah oleh performa beberapa pemain yang masih terasa "sangat sinetron", sehingga tensi thriller yang harusnya intens malah terasa tanggung.
Dari segi teknis, penggunaan color grading yang flat, shot close-up berlebihan tanpa urgensi dramatis yang jelas, hingga scoring yang terlalu berisik juga terkesan terlalu memaksakan suasana filmnya untuk terlihat menjadi tegang, yang sebenarnya belum terbentuk secara organik. Untungnya, babak akhir filmnya seolah menghapus kelemahan-kelemahan di atas tadi.
Klimaksnya yang brutal ini cukup menghibur dan membuat filmnya terasa hidup, seolah memperlihatkan potensi asli dari skripnya yang seharusnya bisa konsisten sejak awal. Elemen pengkhianatan, aksi tembak-tembakan dan kekerasan ala film bergenre action pada akhirnya memberikan energi yang sangat dibutuhkan sejak awal.
Overall, Lift patut diapresiasi karena berani mengambil keputusan untuk melahirkan skala penceritaan yang luas, serta penggunaan satir dan isu politik yang efektif dalam menambah layer penceritaannya. Walaupun, jika boleh jujur, andai eksekusinya bisa lebih matang dan lebih "mahal" lagi, Lift rasanya mampu jauh lebih maksimal karena filmnya sendiri memiliki banyak sekali potensi.







