Loading your location

Review Marty Supreme: Sinematografinya Berkelas dan Estetik

By Ekowi27 Februari 2026

Film Marty Supreme akhirnya tiba di bioskop Indonesia mulai tanggal 25 Februari 2026 ini. Mengusung genre drama olahraga dengan sentuhan romansa dan nuansa gelap, film ini mengambil inspirasi dari kisah nyata legenda tenis meja Amerika yang bernama Marty Reisman.

Marty Supreme akan mengikuti kisah Marty Mauser (Timothee Chalamet), seorang pemuda ambisius di New York pada era 1950-an yang bermimpi menjadi legenda tenis meja dunia. Ia digambarkan sebagai sosok yang berjuang membuktikan dirinya di tengah lingkungan yang meremehkannya.

Sejak awal, Marty percaya pingpong bukan sekadar olahraga, melainkan jalan untuk meraih pengakuan dan harga diri. Namun, mimpinya dianggap tidak realistis sehingga ia harus bekerja dua kali lebih keras demi menunjukkan bahwa dirinya layak diperhitungkan.

Seiring berjalannya waktu, film ini berkembang menjadi potret ambisi yang perlahan berubah menjadi obsesi. Marty tidak hanya menghadapi kerasnya kompetisi, tetapi juga masuk ke dunia tenis meja bawah tanah yang penuh intrik dan manipulasi. Lantas, akankah Marty pada akhirnya berhasil menjadi legenda tenis meja yang mendunia?

Satu hal penting yang membuat film ini terasa lebih emosional adalah betapa relatenya dengan anak muda masa kini, terutama soal pencarian jati diri. Marty Mauser merupakan tipikal orang yang hidup dengan prinsipnya sendiri, tidak butuh validasi dari siapa pun selain dari dirinya sendiri.

Tapi di sisi lain, sikapnya yang liar dan haus akan kebebasan, serta suka bertindak sesuka hatinya itu terasa seperti refleksi dari fase pubertas, fase di mana seseorang masih mencari siapa dirinya yang sebenarnya, meskipun harus menyakiti orang lain atau dirinya sendiri. Setiap keputusan dari Marty Mauser digambarkan begitu impulsif, liar, dan kadang tidak masuk akal. Tapi justru itu yang membuat filmnya terasa hidup dan unpredictable.

Secara teknis, film ini digarap dengan sangat baik. Sinematografinya berkelas dan estetik, dengan visual yang berhasil menghidupkan vibes retro classic Hollywood era 1950-an. Scoring musiknya juga sangat mendukung banget. Judul-judul tembang seperti Forever Young dan Everybody Wants to Rule the World mampu membuat suasana film terasa fun, nostalgic, tapi juga memperdalam konflik emosional dari karakter Marty Mauser itu sendiri. Dengan kata lain, musiknya bukan hanya sebagai tempelan, tapi juga menjadi bagian dari jiwa filmnya.

Hal menarik lainnya adalah, bahwa tenis meja di film ini bukanlah sebagai konflik utama, melainkan menjadi semacam pelengkap. Inti film ini tetap mengenai kehidupan Marty Mauser, luka batinnya, dan perjalanannya dalam memahami dirinya sendiri. Premis besar tadi amat terbantu oleh pace film ini yang terjaga dengan baik, tidak menjadikannya sebuah sajian slowburn yang membosankan.

Pada akhirnya, Marty Supreme mungkin akan mengingatkan kita semua dengan film legendaris berjudul Catch Me If You Can karya Steven Spielberg. Keduanya sama-sama bercerita tentang karakter muda yang karismatik, absurd, chaotic, menyebalkan, serta masih tersesat dan berusaha menemukan jati dirinya sendiri.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

TANEUH KALAKNAT
Greenland 2: Migration
Rajah
CHECK OUT SEKARANG, PAY LATER (CAPER)

COMING SOON

Pasung
Fast Forever
Para Perasuk
Malin