Loading your location

Review Na Willa: Sajian yang Menyenangkan untuk Dinikmati Penonton Berbagai Usia

By Ekowi20 Maret 2026

Ryan Adriandhy, kembali merilis karya terbarunya. Kali ini adalah sebuah film drama keluarga musikal yang berpusat pada seorang gadis kecil bernama Na Willa. Film ini diadaptasi dari novel anak populer karya Reda Gaudiamo bertajuk Na Willa: Serial Catatan Kemarin dan akan mengajak sobat nonton menyelami keseharian seorang gadis kecil berusia enam tahun di Surabaya pada era 1960-an.

‎Film Na Willa akan menyajikan potret kehidupan Indonesia era 1960-an yang direkam melalui sudut pandang Na Willa (Luisa Adreena), seorang anak kecil yang penuh semangat. Na Willa yang berusia enam tahun ini merupakan anak keturunan campuran. Ibunya berasal dari Nusa Tenggara Timur, sementara ayahnya adalah keturunan Tionghoa.

‎Na Willa yang hidup dan tinggal di lingkungan multikultural ini kaya akan imajinasi dan rasa ingin tahu yang besar dalam merespons realitas di sekitarnya. Bagi Na Willa, dunia kecil di sebuah gang di Surabaya adalah tempat yang magis dan sempurna. Willa sangat mensyukuri hal-hal sederhana dalam hidupnya, mulai dari melodi radio hingga petualangan harian bersama teman-temannya.

‎Namun, dunianya perlahan berubah terasa sepi ketika seorang sahabatnya mengalami kecelakaan dan teman-teman lainnya mulai masuk ke sekolah. Hal itu memicu tekadnya untuk segera masuk Taman Kanak-Kanak (TK) dengan harapan segalanya bisa kembali seperti sedia kala. Sayangnya, dunia sekolah justru memberikan tantangan baru bagi Willa yang memaksanya untuk keluar dari dunia anak-anak yang penuh keajaiban.

‎Rasa-rasanya begitu mustahil menonton film ini tanpa tersenyum sendiri melihat kepolosan seorang gadis kecil berusia enam tahun yang sedang mencoba memahami banyak hal baru dalam hidupnya. Ryan Adriandhy dan timnya berhasil menghidupkan karakter Na Willa, beserta tokoh-tokoh lainnya, dengan sangat baik ke dalam ruang audio visual.

‎Tidak hanya dari sisi karakter, visualisasi dunia Na Willa juga ditampilkan dengan apik melalui penggunaan CGI dan practical effect yang terasa indah sekaligus hangat. Salah satu adegan yang paling berkesan adalah ketika karakter Mak dan Pak saling berkirim kabar melalui secarik surat, yang divisualisasikan layaknya sebuah pertunjukan teater.

‎Mungkin, satu kekurangan film ini terletak pada durasinya yang terasa sedikit panjang. Mengingat film ini ditujukan untuk anak-anak, khawatirnya mereka akan cepat merasa bosan. Namun, “panjang” di sini juga tidak sepenuhnya negatif. Ryan Adriandhy tidak mengeksploitasi cerita demi memperpanjang durasi. Sebaliknya, Ryan tampak tidak ingin menyia-nyiakan setiap detail cerita yang ada dalam novel karya Reda Gaudiamo, sehingga durasi 1 jam 58 menit terlihat seperti upaya Ryan untuk merangkul keseluruhan isi buku.

‎Lewat film ini, kita semua juga akan diajak untuk mengingat hal-hal yang terjadi sewaktu kecil. Tentang segala hal di sekitar kita yang terasa begitu besar hingga sulit digapai. Masa di mana dunia hanya tentang bermain, bermain, dan bermain, sambil berharap semoga esok, dan esoknya lagi akan terus seperti itu.

‎Secara keseluruhan, Na Willa merupakan sajian yang menyenangkan untuk dinikmati, terlebih jika ditonton bersama anak-anak karena bisa memberikan pengalaman yang berbeda bagi tiap usia. Pendekatan yang diambil oleh sang sutradara juga membuat cerita film ini terasa ringan dan mudah diikuti, namun di saat yang sama tetap mampu menyelipkan beberapa isu yang lebih kompleks, seperti soal perjodohan dan dinamika sosial yang mungkin baru sepenuhnya dipahami oleh penonton dewasa.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

Kuyank
Pelangi Di Mars
Dhurandhar: The Revenge
TIBA TIBA SETAN

COMING SOON

Diam: Mati Atau Mati
SHADOW FORCE
Anemone
Frozen 3