Loading your location

Review Pelangi di Mars: Sajikan Visual Menarik lewat Teknologi XR yang Jarang Digunakan Film Indonesia

By Ekowi22 Maret 2026

‎Bioskop Tanah Air sedang dihiasi oleh film fiksi ilmiah (Sci-Fi) keluarga bertajuk Pelangi di Mars. Film ketujuh dari rumah produksi Mahakarya Pictures ini akan berlatar di tahun 2090, ketika persediaan air di Bumi sudah sangat terbatas sehingga satu-satunya suplai air bersih dimonopoli oleh sebuah perusahaan bernama Nerotex.

‎Diceritakan, Pelangi (Messi Gusti) seorang gadis 12 tahun menjadi manusia pertama yang lahir dan tumbuh di Mars. Pelangi hidup seorang diri di Planet Mars yang sepi setelah ditinggal oleh ibunya, Pratiwi (Lutesha). Pada saat itu, koloni manusia sudah meninggalkan planet tersebut.

‎Namun, kesendirian Pelangi segera berubah menjadi perjalanan luar biasa ketika ia bertemu dengan sekelompok “robot rusak” yang sudah lama ditinggalkan. Bersama mereka, Pelangi mengejar harapan terakhir umat manusia, yakni sebuah mineral ajaib Bernama Zeolith Omega yang diyakini mampu memurnikan air di Bumi.

‎Dari segi teknis, film ini menggunakan konsep hybrid yang menggabungkan live action dengan animasi 3D serta teknologi Extended Reality (XR). Teknologi ini memungkinkan para aktor berinteraksi secara lebih realistis dengan lingkungan digital maupun karakter animasinya. Pendekatan tersebut membuat visual film ini terasa lebih futuristik dibandingkan banyak produksi lokal lainnya. Tak heran jika proyek ini dianggap sebagai salah satu eksperimen besar dalam perfilman Indonesia.

‎Interaksi antar karakter robotnya juga menghadirkan banyak unsur komedi, bahkan gaya bercandanya terasa sangat dekat dengan budaya Indonesia, sehingga memberi warna tersendiri dalam perjalanan para karakternya. Meski demikian, dari sisi cerita, film ini masih memiliki beberapa kekurangan.

‎Alur plotnya terasa cukup panjang hanya untuk menceritakan perjalanan mencari Zeolith Omega, sehingga di beberapa bagian terasa sedikit monoton. Selain itu, chemistry antara Pelangi dan para robotnya juga belum terasa kuat, sehingga hubungan emosional di antara mereka kurang tergali secara maksimal.

‎Akan tetapi, di luar beberapa kelemahannya tadi, Pelangi di Mars tetap layak untuk diapresiasi. Film ini mampu menghadirkan visual yang sangat menarik dengan penggunaan teknologi XR yang jarang digunakan dalam film Indonesia, khususnya bagi genre science fiction. Pergerakan robot serta kualitas animasinya juga terasa cukup halus dan solid.

‎Sebagai sebuah karya anak bangsa yang mencoba mengeksplorasi genre sci-fi dengan pendekatan teknologi yang cukup maju, Pelangi di Mars bisa dibilang merupakan langkah berani sekaligus eksperimen yang patut dihargai di dalam perkembangan sinema Indonesia.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

Agak Laen: Menyala Pantiku!
Panda Plan: The Magical Tribe
DANUR: THE LAST CHAPTER
Project Y

COMING SOON

Tanah Runtuh
Penggali Kubur
Kapal Terbang
Perkasa Seperti Air