Review Seni Merayu Tuhan: Film Reliji yang Dekat dengan Problematika Gen Z

Film religi tanah air kembali hadir dengan pendekatan yang berbeda lewat Seni Merayu Tuhan. Diadaptasi dari buku best seller karya Habib Husein Ja'far Al Hadar, film produksi Wahana Kreator ini telah menyambangi bioskop Indonesia mulai pekan ini.
Disutradarai oleh Cesa David Luckmansyah yang dikenal sebagai editor berbagai film Indonesia, Seni Merayu Tuhan akan mengangkat kisah pencarian makna hidup, hubungan seorang anak dengan ibunya, serta perjalanan spiritual yang terasa dekat dengan kehidupan banyak orang.
Film Seni Merayu Tuhan akan berkisah tentang Hikmah (Ari Irham) yang telah merasa enak dengan dunia yang ia jalani, hingga suatu ketika, ia jatuh ke titik terendahnya saat sang ibu (Rieke Diah Pitaloka) meninggal dunia. Semasa sang ibu masih hidup, Hikmah jarang pulang ke rumah. Telepon dan pesannya tak pernah dibalas.
Hikmah selalu bersenang-senang dengan kehidupan masa mudanya, termasuk bersama sang pacar, Sophia (Lutesha). Saat diajak untuk menjalankan salat Jumat, jawaban Hikmah bahkan: "sudah pernah". Hidup Hikmah lantas berubah 180 derajat. Ia yang sebelumnya seperti tak mengenal Tuhan, kemudian justru mencari jalan untuk kembali mendekat, meski ia lupa kapan terakhirnya salat.
Satu hal paling cerdas dari film ini adalah caranya dalam menangkap fenomena sindrom orang yang baru hijrah, yakni fase di mana seseorang menelan semua ceramah agama secara mentah-mentah tanpa disaring, hingga tanpa sadar terjebak dalam superiority complex.
Cesa David yang sudah amat berpengalaman sebagai editor, mampu mengatur ritme film ini secara terkontrol. Transisi antar adegan emosionalnya tidak terasa dipaksakan, dan penggunaan motif karakter, terutama seputar profesi Hikmah sebagai editor yang mencoba mengendalikan alur cerita hidupnya sendiri, juga terasa cukup tajam.
Akan tetapi, meskipun durasi filmnya yang mencapai 115 menit cukup lapang, ada beberapa dinamika, terutama konflik antar karakternya terasa masih diselesaikan terlalu cepat. Padahal, ada potensi untuk menggali lebih dalam bagaimana trauma kehilangan itu benar-benar merusak hubungan interpersonal dari sosok Hikmah, yang bukan hanya dapat dijelaskan lewat dialog semata.
Namun begitu, rasanya sudah lama kita tak menemukan film religi yang isinya tidak menceramahi kita semua secara brutal. Justru film ini seperti mencoba memahami dan merayu kita untuk mendekat kepada Tuhan dengam cara cara yang lembut. Sebuah film religi yang pendekatannya dalam berbahasa betul-betul disesuaikan dengan beragam masalah-masalah hidup yang dialami oleh Gen Z saat ini.
Pada intinya, film Seni Merayu Tuhan akan mengajak kita semua untuk mengubah hubungan dengan Tuhan, dari yang semula hanya berbasis kebutuhan menjadi berbasis kasih sayang. Melalui film ini, kita juga tidak hanya akan mendapatkan pemahaman baru tentang suatu doa atau permintaan kepada Sang Pencipta, tetapi juga pemikiran reflektif, hingga kisah-kisah yang inspiratif.








