Review Suka Duka Tawa: Sajikan Plot Cerita yang Mengalir dengan Asyik

Film Indonesia berjudul Suka Duka Tawa akan menjadi salah satu pembuka tahun 2026 di bioskop Indonesia. Diproduksi oleh BION Studios bersama Spasi Moving Image dan menjadi debutan dari sutradara Aco Tenriyagelli, film ini akan mengajak sobat nonton menertawakan luka-luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, lalu memeluknya dengan hangat sebelum melangkah ke tahun yang baru.
Film ini akan menceritakan Tawa (Rachel Amanda), seorang stand up comedian perempuan yang harus menghadapi berbagai kisah tragis di keluarganya. Ayahnya, Pak Keset (Teuku Rifnu Wikana), telah meninggalkan Tawa sejak kecil demi mengejar mimpi menjadi pelawak terkenal. Semenjak hari itu pula, ibunya, Cantik (Marissa Anita), tak pernah tersenyum lagi.
Karakter Tawa yang slengean menjadikannya hidup di antara kebencian terhadap ayahnya sekaligus harus dapat memposisikan diri ketika di depan ibunya. Situasi ini kemudian menginspirasi Tawa untuk menjadikan kisah tragisnya sebagai materi stand up comedy. Di atas panggung, ia menghadirkan gemuruh gelak tawa kepada para penonton melalui candaannya. Namun, jauh di dalam lubuk hati Tawa, terdapat luka membekas dengan spektrum yang sama sekali berbeda.
Ekspektasi penulis terhadap Aco Tenriyagelli sebagai sutradara yang selama ini dikenal lewat karya-karya music video masih sangat terjaga di film panjang pertamanya ini. Gaya penyutradaraannya masih kuat, terutama dalam cara ia menyorot emosi kecil, reaksi mikro, dan bahasa tubuh tiap karakter. Aco tidak terburu-buru dalam bercerita. Ia justru memberi ruang bagi setiap adegan untuk bernapas, sehingga emosi bisa tumbuh secara natural.
Hal lain yang patut diapresiasi dari film ini adalah penulisan karakter utamanya. Film ini terasa adil dalam memperlakukan setiap tokoh utama, karena masing-masing memiliki perjuangan sekaligus kesalahan. Keset hadir sebagai figur ayah yang penakut dan gagal menjalankan perannya dengan utuh. Sementara Ibu Cantik digambarkan sebagai sosok yang tidak cukup kuat menghadapi ambisi besar suaminya.
Dan Tawa, sebagai pusat cerita, memiliki konflik internal yang cukup kompleks. Ia berada di persimpangan emosional: melihat langsung perjuangan ibunya, namun di saat yang sama mulai memahami bahwa ayahnya tidak sepenuhnya seburuk yang ia bayangkan. Ironisnya, Tawa justru menjadikan sosok ayahnya sebagai objek tertawaan dalam materi stand-up comedy miliknya.
Akan tetapi, meski kuat secara emosi dan penyutradaraan, film ini masih memiliki beberapa kelemahan, terutama pada aspek dialog. Beberapa percakapan masih terasa hambar dan kurang realistis, sehingga sesekali mematahkan mood yang sudah dibangun dengan baik. Selain itu, terdapat sejumlah karakter yang terasa tidak memiliki fungsi signifikan dalam cerita. Teman-teman komunitas stand-up Tawa misalnya, tidak diberi kedalaman karakter yang cukup, sehingga kehadiran mereka terasa hanya sekadar tempelan.
Overall, bisa dibilang, Suka Duka Tawa tetap menjadi sebuah debut film panjang seorang Aco Tenriyagelli yang terasa sangat hangat untuk ditonton. Plot ceritanya mengalir dengan asyik, membuat sobat nonton akan mudah terhubung sejak awal hingga akhir durasinya.








