Loading your location

Review The Strangers: Chapter 3: Lebih Baik dari Dua Film Sebelumnya

By Ekowi06 Februari 2026

Waralaba horor The Strangers telah menjadi ikon dalam genre home invasion sejak film pertamanya dirilis pada tahun 2008 silam. Disutradarai dan ditulis oleh Bryan Bertino, filmnya sendiri mengisahkan pasangan yang diserang oleh tiga orang asing bertopeng tanpa motif jelas, terinspirasi dari kejahatan nyata seperti pembunuhan Tate-LaBianca oleh keluarga Manson.

Kesuksesan film tersebut lantas melahirkan sekuelnya yang berjudul The Strangers: Prey at Night pada 2018, yang bergeser ke setting trailer park dan lebih menekankan aksi slasher. Namun, trilogi baru yang dimulai dengan The Strangers: Chapter 1 pada Mei 2024 menandai reboot mandiri, meski tetap dalam kontinuitas yang sama.

Kini, sambutlah The Strangers: Chapter 3 yang hadir sebagai penutup trilogi horor karya Renny Harlin. Dalam film ini, sang tokoh sentral kita yang bernama Maya (Madelaine Petsch) harus kembali berhadapan dengan para pembunuh bertopeng dalam situasi yang semakin kejam dan tanpa ampun.

Bedanya, kini Maya beralih dari korban menjadi penyerang, dan berniat mencari konfrontasi terakhir dan brutal dengan para pembunuh bertopeng yang telah membuat hidupnya seperti neraka. Sialnya, kini teror tidak hanya datang dari para pembunuh, tetapi juga dari dalam diri Maya sendiri. Ia dipaksa menghadapi rasa takut, trauma, dan keputusasaan yang selama ini terus menekan hidupnya.

Sebenarnya, film yang disutradarai oleh Renny Harlin ini memiliki intensi untuk membangun horor dengan kemasan thriller lewat adegan-adegan yang membuat sobat nonton menerka apa yang terjadi secara perlahan dari interaksi protagonis yang akan menjadi korban dengan para peneror. Sayangnya, nuansa thriller yang dibangun Harlin buyar dengan ketidaksabarannya dalam membangun intensitas nuansa mencekam.

Mau dibawa ke arah horor pun, bukan pula horor yang mentok dengan segala nuansa yang membangun ketakutan. Semuanya serba tanggung. Alih-alih memaksimalkan membangun intensitas di antara keterancaman tadi, Harlin lebih memilih jalan pintas dengan memanfaatkan unsur efek suara sebagai sesuatu yang secara instan membuat penontonnya berteriak ketakutan, seperti adegan gedoran pintu yang audionya dikeraskan, atau langkah kaki dan suara-suara napas.

Di antara banyaknya karya horor terkini dengan berbagai perkembangannya yang menyegarkan, tentu The Strangers: Chapter 3 belum cukup kuat untuk sekadar tampil dengan alur yang juga masih menggunakan formula lama dan tanpa adanya pembaruan-pembaruan secara signifikan sebagai unsur horor dan thrillernya.

Sejumlah keputusan bodoh dari para karakternya pun sukses membuat penonton emosi saking kesalnya sejak awal hingga akhir film. Namun, deretan keputusan bodoh tersebut jugalah yang menambah nuansa menegangkan selama menonton. Sebab, tiap mereka membuat keputusan bodoh, pasti selalu ada celah bagi para psikopat untuk menyerang mereka.

Meski lebih sering menghadirkan ketegangan (atau kebodohan) lewat tindakan karakternya, The Strangers: Chapter 3 bisa dibilang masih rajin dalam menghadirkan jumpscare sebagai sebuah film horor. Beberapa momen jumpscare di film ini juga terbilang efektif dalam membuat penonton terkejut. Hal ini terjadi berkat eksekusi yang jitu dari departemen sinematografinya.

Sebagai sebuah film yang menampilkan psikopat sebagai antagonis utamanya, film ini juga memiliki beberapa elemen slasher. Namun, karena pada dasarnya bukan elemen yang dominan, momen bernuansa slasher pada film ini bisa dibilang masih terasa “family friendly”, bahkan untuk sebuah film yang memiliki rating usia 17+ ketika tayang di bioskop Indonesia.

Tapi apapun itu, The Strangers: Chapter 3 tetap mampu memperluas cakupan horor dari film pertama dan keduanya, serta menghadirkan ketegangan yang lebih luas dan berlapis. Karakter Maya di film ini bukan hanya korban lagi, melainkan menjadi simbol perlawanan terhadap ketakutan paling dasar manusia, yakni ketidakberdayaan saat diteror tanpa alasan.

Sobat nonton, jangan lupa bagikan tulisan ini ya!

NOW PLAYING

Agak Laen: Menyala Pantiku!
Aqours Documentary 10th Anniversary
5 Centimeter Per Second (Live Action)
HUMAN RESOURCE

COMING SOON

KESARI CHAPTER 2
Suamiku Lukaku
HEEL: Good Boy
Qodrat 3